- JAKARTA – Sistem kerja jarak jauh atau work from home (WFH) berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, terutama bagi pekerja yang tinggal sendiri.
- Dilansir dari Psychology Today, Selasa, penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 500.000 orang dewasa di Amerika Serikat dengan membandingkan pekerja yang dapat bekerja secara jarak jauh dengan pekerja yang harus hadir langsung di tempat kerja.
- Hasil penelitian menunjukkan pekerja yang menjalani sistem kerja jarak jauh rata-rata menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih lama sendirian setiap hari dibandingkan pekerja non-remote.
JAKARTA – Sistem kerja jarak jauh atau work from home (WFH) berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, terutama bagi pekerja yang tinggal sendiri. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science.
Dilansir dari Psychology Today, Selasa, penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 500.000 orang dewasa di Amerika Serikat dengan membandingkan pekerja yang dapat bekerja secara jarak jauh dengan pekerja yang harus hadir langsung di tempat kerja.
Hasil penelitian menunjukkan pekerja yang menjalani sistem kerja jarak jauh rata-rata menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih lama sendirian setiap hari dibandingkan pekerja non-remote. Kondisi ini dikaitkan dengan meningkatnya tekanan psikologis, depresi, kecemasan, hingga rasa kesepian.
Meski demikian, dampak tersebut tidak dirasakan oleh semua pekerja. Penelitian menemukan bahwa pekerja remote yang tinggal bersama keluarga tidak mengalami peningkatan tekanan psikologis maupun waktu menyendiri secara signifikan. Sebaliknya, pekerja yang tinggal sendiri lebih rentan mengalami kesepian dan tekanan mental akibat minimnya interaksi sosial.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa pekerja yang baru beralih ke sistem kerja jarak jauh belum menunjukkan peningkatan gangguan kesehatan mental. Hal ini mengindikasikan bahwa dampak negatif WFH cenderung muncul setelah dijalani dalam jangka waktu yang lebih lama.
Peneliti menilai berkurangnya interaksi sosial menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi psikologis pekerja yang tinggal sendiri selama menjalani WFH.
Di sisi lain, kerja jarak jauh tidak selalu memberikan dampak negatif. Laporan Neurobridge menyebutkan bahwa pekerja neurodivergen, termasuk penyandang autisme dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), justru menganggap kebijakan bekerja penuh di kantor sebagai salah satu sumber stres.
Bagi kelompok tersebut, sistem kerja fleksibel atau hybrid dinilai lebih sesuai karena dapat meningkatkan kenyamanan dalam bekerja tanpa harus menghadapi interaksi sosial tatap muka yang berlebihan.
Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian terhadap sekitar 1.600 pekerja di China. Studi tersebut menunjukkan bahwa sistem kerja fleksibel dan hybrid mampu meningkatkan kepuasan kerja, produktivitas, serta kesehatan mental, khususnya bagi pekerja yang memiliki waktu tempuh perjalanan panjang dan pekerja perempuan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa dampak kerja jarak jauh terhadap kesehatan mental tidak dapat digeneralisasi. Efeknya dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi tempat tinggal, karakteristik individu, hingga budaya kerja dan sistem transportasi di masing-masing negara.
Berita Lainnya
Nasional
Pemprov Papua Harap Wakil Paskibraka Nasional Jadi Duta Kebangsaan
Nasional
Raker APPSI, Gubernur Aceh Dorong Sinergi Pembangunan Daerah
Nasional
Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di MI Ma’arif Gupolo
Nasional

