- BIREUEN – Keceriaan libur akhir pekan yang dirasakan pengunjung di kawasan Pantai Jangka, Kabupaten Bireuen, berubah seketika menjadi suasana duka mendalam.
- Korban yang bernama Firat Altakim, merupakan siswa MIN Cot Batee, berdomisili di Gampong Cot Batee, Kecamatan Kuala.
- Berdasarkan keterangan yang dihimpun, musibah bermula saat korban berada di sekitar struktur pemecah ombak di kawasan Pantai Laut Jangka.
BIREUEN – Keceriaan libur akhir pekan yang dirasakan pengunjung di kawasan Pantai Jangka, Kabupaten Bireuen, berubah seketika menjadi suasana duka mendalam. Seorang pelajar berusia 12 tahun yang di kabarkan sebelum nya sempat hilang terseret arus laut pada Sabtu sore, akhirnya ditemukan meninggal dunia pada Minggu pagi (31/5/2026). Peristiwa ini kembali menyadarkan semua pihak akan besarnya risiko yang tersembunyi di balik keindahan wisata pesisir.
Korban yang bernama Firat Altakim, merupakan siswa MIN Cot Batee, berdomisili di Gampong Cot Batee, Kecamatan Kuala. Jasadnya telah ditemukan terdampar di bibir Pantai Pante Paku, Kecamatan Jangka, berjarak sekitar delapan kilometer dari titik lokasi awal ia beraktivitas.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, musibah bermula saat korban berada di sekitar struktur pemecah ombak di kawasan Pantai Laut Jangka. Di saat pengunjung lain sedang menikmati suasana, arus laut yang berubah cepat dan cukup kuat tiba-tiba menyeret tubuh korban ke tengah lautan. Mendengar teriakan pertolongan, warga dan petugas yang ada di lokasi langsung berupaya melakukan pertolongan, namun kondisi arus dan gelombang yang tinggi saat itu membuat upaya tersebut sangat sulit dilakukan.
Tim gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, kepolisian, nelayan, dan masyarakat setempat segera dikerahkan melakukan pencarian luas hingga menjelang malam hari. Namun, karena faktor cuaca dan keterbatasan cahaya, operasi pencarian terpaksa dihentikan sementara dan dilanjutkan kembali saat fajar menyingsing. Berkat pantauan warga yang tetap siaga di sepanjang garis pantai, korban akhirnya ditemukan pada pagi hari, namun nyawanya sudah tidak tertolong.
Kapolsek Jangka, Ipda Fidhal Akhyar Febrina, S.E., membenarkan peristiwa tersebut dan menjelaskan bahwa penemuan korban berkat laporan warga yang sedang beraktivitas di sekitar Pantai Pante Paku.
“Kondisi laut di kawasan ini memang memiliki karakteristik arus yang cukup deras dan bisa berubah sewaktu-waktu, apalagi di sekitar bangunan pemecah ombak. Ini menjadi zona yang sangat berisiko, apalagi bagi anak-anak yang belum paham bahaya,” ungkap Ipda Fidhal.
Tragedi yang menimpa Firat bukan sekadar berita kehilangan nyawa, melainkan teguran keras dan bahan evaluasi bersama. Pantai Jangka memang telah lama menjadi destinasi andalan dan favorit masyarakat Bireuen maupun luar daerah untuk melepas penat. Namun, di balik pesona alamnya, tersimpan potensi bahaya yang sering kali luput dari perhatian pengunjung maupun pengelola.
Banyak warga berharap kejadian ini menjadi titik balik perbaikan sistem keamanan. Pemasangan papan peringatan yang lebih jelas dan mencolok, penandaan zona berbahaya, hingga keberadaan petugas pemantau pantai di jam-jam ramai, dinilai sangat diperlukan. Edukasi tentang cara berwisata aman di laut juga harus terus disosialisasikan, mengingat masih banyak pengunjung yang membawa anak-anak tanpa pengawasan ketat dan memahami peta bahaya arus.
Bagi keluarga besar korban, kepergian Firat adalah duka yang tak tergantikan. Namun, di sisi lain, peristiwa ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat: bahwa keindahan laut harus dinikmati dengan kewaspadaan tinggi. Keselamatan bukan lagi sekadar tanggung jawab petugas, melainkan kewajiban bersama agar tragedi serupa tidak kembali terulang dan merenggut nyawa generasi penerus di masa depan.

