Kota Langsa, 30 April 2026- Gelombang kritik terhadap kebijakan penghapusan program studi kini mencapai titik panas.
Akademisi muda Afinas Qadafi melontarkan serangan terbuka yang jauh lebih keras negara dinilai tidak lagi sekadar keliru, tetapi sedang melakukan “pembantaian intelektual” secara sistematis.
“Ini bukan reformasi pendidikan. Ini eksekusi terhadap ilmu pengetahuan. Negara sedang mengubur disiplin ilmu hidup-hidup demi kepentingan pasar,” tegas Afinas dengan nada tajam.
Menurut Afinas, kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menjadikan kampus sekadar alat produksi tenaga kerja murah. Prodi yang tidak menghasilkan keuntungan ekonomi langsung dianggap tidak layak dipertahankan.
Ia menyebut logika ini sebagai bentuk “penjajahan gaya baru” dalam dunia pendidikan.
“Kalau ukuran ilmu hanya berlaku atau tidak di industri, maka kita sedang mengganti universitas menjadi pabrik. Ini bukan pendidikan, ini perbudakan intelektual”
Afinas lalu mengutip pemikiran tajam Tan Malaka:
“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan”
Ia menegaskan, jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi pasar, maka negara telah mengkhianati cita-cita besar tersebut.
Afinas menilai penghapusan prodi adalah tanda berbahaya negara mulai menentukan ilmu mana yang dianggap “berguna” dan mana yang harus disingkirkan.
“Hari ini yang dihapus adalah prodi. Besok bisa jadi yang dihapus adalah cara berpikir. Ini bukan kebijakan teknis, ini kontrol ideologis.”
Ia memperingatkan bahwa praktik semacam ini berpotensi melahirkan generasi yang patuh, tetapi tidak kritis.
Dalam kritiknya, Afinas juga menyoroti dampak nyata yang sering diabaikan pemerintah.
“Di balik satu keputusan penghapusan, ada dosen yang dimatikan kariernya, ada mahasiswa yang digantung masa depannya. Ini kebijakan terbodoh setelah MBG”
Menurutnya, negara sedang menjadikan kampus sebagai laboratorium kebijakan tanpa mempertimbangkan dampak kemanusiaan.
Sebagai mahasiswa hukum tata negara, Afinas menegaskan bahwa kebijakan ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab konstitusional negara.
“Konstitusi memerintahkan negara mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan menyederhanakan ilmu demi efisiensi. Ini bentuk pengkhianatan terhadap amanat sejarah.”
Ia bahkan menyebut kebijakan ini sebagai bentuk kemunduran berpikir negara dalam melihat fungsi pendidikan.
Menutup pernyataannya, Afinas Qadafi melontarkan peringatan yang lebih gelap dan provokatif
“Jika hari ini negara membunuh ilmu yang tidak menguntungkan, maka besok negara akan menciptakan generasi yang tidak mampu melawan.”
Mengutip semangat perjuangan Tan Malaka, ia menegaskan
“Bangsa yang besar bukan bangsa yang patuh, tapi bangsa yang berpikir.”
Ia mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk segera menghentikan kebijakan tersebut sebelum sejarah mencatatnya sebagai rezim yang membungkam ilmu.
“Kalau kampus dibungkam, maka yang lahir bukan intelektual tapi budak kapitalis.”
Dipublikasikan: 30 April 2026, 13:05 WIB
Diperbarui: 30 April 2026, 13:07 WIB

