Manyak Payed — Kontestasi pemilihan Datok Penghulu Kampung Tualang Baro mulai menghangat. Salah satu kandidat, Samsul Bahri, tampil membawa jargon “Berani Berubah, Maju, dan Berkeadilan” dengan menitikberatkan pembenahan tata kelola pemerintahan kampung dan peningkatan pelayanan masyarakat.

Dalam visi ia menargetkan terwujudnya kampung yang agamis, maju, dan dinamis menuju kampung tangguh serta mandiri. Ia menilai pembangunan desa tidak cukup hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi harus menyentuh kebutuhan nyata masyarakat, arah pembangunan kampung belum sepenuhnya terasa merata. Infrastruktur dasar, transparansi anggaran, hingga penguatan ekonomi kampung dinilai masih berjalan lambat. Kondisi itu menjadi salah satu latar munculnya dorongan perubahan dari masyarakat.
Samsul Bahri menawarkan pendekatan berbeda. Ia menekankan pemerintahan efektif dan transparan, pengembangan aset kampung melalui BUMK, serta peningkatan pelayanan sosial. Selain itu, penguatan kegiatan pemuda, keagamaan, dan budaya menjadi prioritas agar kampung tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga sosial.
Menariknya, dalam sejumlah pertemuan warga, muncul harapan agar kepemimpinan kampung ke depan tidak lagi diukur dari latar belakang kelahiran semata. Masyarakat menilai barometer perubahan bukan ditentukan apakah seorang pemimpin asli atau pendatang, melainkan sejauh mana mampu bekerja dan membawa kemajuan.
Di Tualang Baro sendiri, banyak warga pendatang yang telah lama berkontribusi dalam aktivitas ekonomi maupun sosial kemasyarakatan. Karena itu, sebagian warga berharap kepemimpinan baru nantinya membuka ruang partisipasi yang setara bagi seluruh masyarakat tanpa sekat identitas.
“Yang dibutuhkan kampung hari ini bukan soal asal-usul, tapi kemampuan memimpin dan keberanian mengambil keputusan untuk kemajuan bersama,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.
Dalam programnya, Samsul Bahri juga memprioritaskan perbaikan jalan, drainase, dan penerangan desa sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi warga. Kontestasi ini pun dipandang sebagai momentum evaluasi kepemimpinan sebelumnya agar pemerintahan kampung lebih komunikatif, terbuka, dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Dengan konsep perubahan dan tata kelola terbuka, kepemimpinan yang ditawarkan diharapkan menjadi penanda arah baru pembangunan Tualang Baro — bukan berdasarkan siapa yang paling lama tinggal, melainkan siapa yang paling siap bekerja untuk semua warga.

