(Catatan pinggiran: Poly Koritelu/Akademisi FISIP UNPATTI AMBON)
Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi media digital, kebenaran tidak lagi semata-mata diukur dari kedalaman substansi, melainkan sering kali ditentukan oleh selera publik yang cepat, populer, dan emosional. Apa yang dianggap benar kerap bergeser dari esensi yang objektif menuju konstruksi yang dibentuk oleh opini mayoritas, algoritma, dan kepentingan tertentu. Dalam konteks ini, muncul ketegangan antara kebenaran esensial yang berakar pada fakta dan refleksi kritis, dengan kebenaran selera publik yang lebih dipengaruhi oleh persepsi, preferensi, dan tren sosial yang berubah-ubah
Fakta ini saya coba melihatnya dengan perspektif kebenaran bayangan. Sebab Teori kebenaran bayangan dapat dipahami sebagai gagasan bahwa apa yang kita anggap benar sering kali bukanlah realitas itu sendiri, melainkan representasi atau “bayangan” dari realitas tersebut. Dalam kerangka ini, kebenaran tidak hadir secara langsung dan murni, melainkan melalui perantara seperti persepsi, bahasa, simbol, atau media.
Manusia tidak mengakses kenyataan secara utuh, melainkan melalui interpretasi yang dibentuk oleh pengalaman, budaya, dan keterbatasan indera. Dengan demikian, kebenaran menjadi sesuatu yang tidak absolut, melainkan refleksi yang bisa saja terdistorsi karena dominasi kepentingan kelompok mayoritas atau kepentingan minoritas yang dominan karena akses kekuasaan maupun sumber finansial.
Konsep ini memiliki akar dalam pemikiran filsafat klasik, terutama gagasan bahwa dunia yang tampak hanyalah tiruan atau bayangan dari realitas yang lebih hakiki. Dalam konteks modern, teori ini berkembang menjadi kritik terhadap cara manusia memahami informasi dan pengetahuan. Apa yang terlihat, terdengar, atau dibaca sering kali hanyalah konstruksi yang telah mengalami seleksi, penyederhanaan, bahkan manipulasi. Oleh karena itu, kebenaran bayangan menekankan pentingnya sikap kritis terhadap segala bentuk representasi realitas (Plato “he Republic (Book VII, Allegory of the Cave, yang direvisi 1992: 514a–520a).
Dalam praktiknya, teori kebenaran bayangan dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti media massa, pendidikan, hingga interaksi sosial sehari-hari. Informasi yang disampaikan tidak pernah sepenuhnya netral; ia selalu membawa sudut pandang tertentu. Misalnya, berita yang sama bisa ditampilkan secara berbeda oleh media yang berbeda, sehingga menghasilkan “kebenaran” yang berbeda pula di mata audiens. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran sering kali merupakan hasil konstruksi, bukan sekadar cerminan objektif dari fakta (Luchman Marshall, Understanding Media: The Extensions of Man, 1964:7–21)
Lebih jauh lagi, perkembangan teknologi digital dan media sosial memperkuat fenomena kebenaran bayangan. Informasi dapat dengan mudah diproduksi, direplikasi, dan disebarkan tanpa proses verifikasi yang memadai. Dalam situasi ini, batas antara fakta dan opini menjadi semakin kabur. Orang cenderung mempercayai sesuatu bukan karena kebenarannya yang objektif, tetapi karena seberapa sering dan luas informasi tersebut muncul dalam ruang publik. Dengan kata lain, intensitas eksposur dapat menggantikan validitas sebagai dasar penerimaan kebenaran.
Hari ini kita banyak menyaksikan kenyataan bahwa sesungguhnya sesuatu yang viral belum tentu betul, tetap publik (diwakili kelompok kepentingan atau pribadi tertentu yang dibiayai justru secara terus-menerus memviralkan menjadi seakan sebuah kebenaran). Dan yang sangat memprihatinkan adalah kebenaran hasil konstruksi ini seakan semakin memberatkan sasaran yang diviralkan “diserang”…pada akhirnya yang dirugikan karena diserang dan atau diviralkan melalui media akan membela diri namun dalam beban yang sangat berat sebab seakan-akan telah ada keputusan sah tentang kesalahannya. Selain itu dalam proses pembuktian opini diarahkan untuk semakin menekan yang bersangkutan, serta opini semakin menekan dan mempush pihak penegak hukum agar memutuskan perkara sesuai kehendak kelompok penekan yang telah menjelma menjadi opini publik tersebut… Inilah fakta Kedaerahan dan ke-Indonesiaan kita saat ini… Saya tak harus memberi contoh kongkrit tapi setidaknya gagasan dan uarain ini bermaksud agar setiap kita yang berinteraksi melalui media mesti memiliki semangat juang untuk membuat auto kritik dan pertobatan diri total agar memiliki wajah dan martabat yang elegan sebagai pribadi yang bersahaja.
Pada akhirnya, teori kebenaran bayangan sangat relevan dalam memahami fenomena viralitas di era digital. Informasi yang sebenarnya belum tentu benar, atau bahkan jelas “tidak benar”, dapat perlahan diterima sebagai kebenaran karena terus diulang dan diperkuat oleh banyak pihak. Ketika suatu narasi menjadi viral, ia memperoleh legitimasi sosial yang membuatnya tampak sahih, meskipun tidak didukung oleh fakta yang kuat. Inilah yang disebut sebagai kebenaran sebagai produk konstruksi sosial; di mana realitas dibentuk bukan oleh apa yang benar secara objektif, melainkan oleh apa yang diyakini bersama sebagai yang benar (salam waras Polly’K).

