- Kecamatan Manyak Payed porak poranda setelah banjir besar menerjang wilayah tersebut sejak Selasa.
- Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada bantuan resmi yang tiba di lokasi.
- Kompleks tersebut luluh lantak diterjang banjir yang terus meninggi tanpa tanda-tanda surut.
Kecamatan Manyak Payed porak poranda setelah banjir besar menerjang wilayah tersebut sejak Selasa. Bencana dimulai dengan angin kencang yang merobek atap-atap rumah, menghancurkan penghalang apa pun yang dilaluinya, sebelum akhirnya air bah datang tanpa peringatan. Dalam hitungan jam, pemukiman warga tenggelam dan sejumlah korban dilaporkan hilang terseret arus.
Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada bantuan resmi yang tiba di lokasi. Sejumlah warga terpaksa bertahan tanpa makanan selama dua hingga tiga hari. Ada pula yang masih terjebak di rumah-rumah mereka, bertahan dengan sisa perabotan yang belum tersapu banjir.
Salah satu titik terparah berada di sekitar Batalyon 111. Kompleks tersebut luluh lantak diterjang banjir yang terus meninggi tanpa tanda-tanda surut. Ratusan warga menyelamatkan diri dengan mengungsi ke deretan toko di depan batalyon, membawa keluarga dan barang seadanya. Mereka bertahan selama tiga hingga lima hari, berdesakan dalam ruang sempit tanpa kepastian logistik.
Derita warga kian memilukan dengan laporan korban meninggal yang belum dapat dievakuasi maupun dimakamkan secara layak. Aroma duka dan kepanikan menyelimuti kawasan yang kini lebih menyerupai lautan keruh ketimbang permukiman.
Masyarakat Manyak Payed meminta pemerintah bergerak cepat. Bantuan dalam bentuk apa pun—perahu evakuasi, logistik, tenaga medis, hingga alat berat—sangat dibutuhkan segera. Setiap jam yang berlalu tanpa tindakan berarti memperbesar risiko kehilangan lebih banyak nyawa.
Warga berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap jeritan mereka. Mereka hanya ingin diselamatkan—dan bagi para korban jiwa, diberi penghormatan terakhir secara layak.

