Wrga Bivak, Desa Krueng Simpo, Kecamatan Juli, Bireuen, yang menjadi korban bencana hidrometeorologi Sumatra, sahur bareng bersama Bupati Bireuen H. Mukhlis, Ketua PMI Bireuen Edi Saputra (Edi Obama), dan sejumlah orang lainnya.
Sahur bareng yang kental nuansa kebersamaan itu berlangsung di tengah heningnya lembah Krueng Peusangan.
Rabu dinihari, sekitar pukul 01.00 WIB, rombongan Bupati Bireuen memasuki simpang di Desa Alue Rambong, Juli. Menggunakan kendaraan roda empat double cabin, mereka mulai melalui jalan berbatu yang berada di tengah hamparan kebun sawit.
Di langit kelam, bintang bertabur indah di malam Ramadan 1447 Hijriah memasuki malam ke-28.
Mobil-mobil melaju, deru mesin terdengar kompak di tengah debu jalanan yang beterbangan digerus ban yang melaju serempak.
Jalan menuju Dusun Bivak berupa jalanan berbatu dengan medan mendaki dan menurun. Di beberapa titik, jalurnya cukup curam. Ada satu yang paling nekat; Camat Kecamatan Juli Hendri Maulana. Berbekal pengalaman Keuchik Balee Panah, Juli, yang menjadi driver, Toyota Avanza lawas mereka berhasil melibas jalanan itu.
Setengah jam kemudian, rombongan tiba di Meunasah Dusun Bivak, yang beradas di tepian Krueng Peusangan.
Udara dingin—meski tak menusuk tulang—langsung menyergap ketika rombongan tiba. Plt Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen Doli Mardian, merapatkan resleting jaketnya.
Bupati Bireuen H. Mukhlis, dibantu oleh sejumlah orang, termasuk warga Dusun Bivak, langsung menuju dapur. Mereka menyalakan api, menaruh belanga besar di atas tungku.
Daging kambing yang sudah disiapkan, ditaruh ke dalam belanga. Bumbu kari khas Bireuen dituangkan ke atas daging. Kemudian diaduk rata. Selanjutnya proses memasak dimulai.
Malam itu, Bupati Bireuen datang ke sana, setelah sekian waktu tak kunjung bisa memenuhi janjinya berkunjung. Warga yang telah lama menantikan kehadiran sang kepala daerah, sangat antusias ketika H. Mukhlis datang.
Seratusan warga Dusun Bivak, menyalami Bupati dengan senyum mekar teramat ramah. Kepala Dusun Bivak M. Nur, dan Keuchik Mursal, langsung menyapa dengan sangat ramah.
“Mohon maaf bila saya terlambat datang ke sini. Mohon bapak dan ibu maklumi, saya sangat sibuk akhir-akhir ini,” kata Bupati.
Warga memaklumi. Apalagi sejak bencana hidrometeorologi Sumatra melanda Bireuen. bencana air bah dan tanah longsor itu bukan hanya menggerus puluhan rumah di Bivak, tapi juga telah mengumbalang desa-desa yang lain, serta kecamatan-kecamatan yang lain.
Di sela-sela mempersiapkan menu makan sahur bareng, Bupati Bireuen dan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Bireuen Edi Saputra, menyerahkan bantuan yang bersumber dari PT Freeport Indonesia yang disalurkan melalui PMI. Serta bantuan logistic dari BPBD Bireuen.
Saat serah terima bantuan logistic tersebut, Bupati menjelaskan pemerintah baik dari tingkat Pusat hingga ke daerah, terus bekerja keras melakukan percepatan penanggulangan pascabencana.
Sehari sebelumnya bantuan daging makmeugang dari Presiden Prabowo kembali dikirim. Uang yang ditransfer harus dibelanjakan untuk daging. Tidak boleh diberikan dalam bentuk cash kepada warga terdampak. Tapi harus dalam bentuk daging.
“Bayangkan, uang baru dikirim kemarin, lusa makmeugang. Waktunya sangat mepet. Pemkab Bireuen harus mencari lembu terbaik, ini tidak mudah,” katanya di depan warga Bivak.
Bupati berpesan supaya warga meningkatkan kesabaran. Pemerintah sedang bekerja. Satu persatu persoalan sedang ditangani. Dia mengatakan Pemerintah Pusat berkomitmen akan melakukan aksi percepatan dengan sebaik-baiknya.
Pemerintah Kabupaten Bireuen juga demikian. Berkomitmen menjalankan semua tugasnya dengan sepenuh jiwa. bila ada yang kurang—dan pasti ada kurangnya—dia meminta maaf.
Atas nama Pemkab Bireuen dia memohon maaf atas kekurangan dalam melayani masyarakat korban bencana.

