- 28 Hari Pasca Banjir Aceh Tamiang, Anak-Anak Masih Menanggung Luka dan KetidakpastianAceh Tamiang — Sudah 28 hari berlalu sejak banjir besar melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang.
- Di balik rumah-rumah yang rusak, sekolah yang belum sepenuhnya pulih, dan lingkungan yang masih menyisakan lumpur serta puing-puing, anak-anak Aceh Tamiang kini menghadapi hari-hari penuh ketidakpastian.
- Sebagian anak terpaksa tinggal di hunian sementara bersama orang tua mereka, dengan kondisi sanitasi dan kesehatan yang belum memadai.
28 Hari Pasca Banjir Aceh Tamiang, Anak-Anak Masih Menanggung Luka dan Ketidakpastian
Aceh Tamiang — Sudah 28 hari berlalu sejak banjir besar melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tamiang. Air memang telah surut, namun dampak bencana masih dirasakan mendalam, terutama oleh anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan terdampak.
Di balik rumah-rumah yang rusak, sekolah yang belum sepenuhnya pulih, dan lingkungan yang masih menyisakan lumpur serta puing-puing, anak-anak Aceh Tamiang kini menghadapi hari-hari penuh ketidakpastian. Banyak dari mereka kehilangan perlengkapan sekolah, ruang bermain yang aman, bahkan rasa aman itu sendiri.
Sebagian anak terpaksa tinggal di hunian sementara bersama orang tua mereka, dengan kondisi sanitasi dan kesehatan yang belum memadai. Aktivitas belajar terganggu, sementara trauma akibat banjir—derasnya arus air, malam-malam pengungsian, dan kehilangan barang-barang pribadi—masih membekas dalam ingatan mereka.
“Anak-anak bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan rutinitas, rasa aman, dan kesempatan untuk tumbuh secara normal,” ungkap salah satu relawan kemanusiaan di lokasi terdampak.
Pasca 28 hari bencana, perhatian terhadap pemulihan psikososial anak-anak dinilai masih sangat terbatas. Padahal, anak-anak membutuhkan pendampingan khusus agar tidak mengalami trauma berkepanjangan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang dan masa depan mereka.
Atas kondisi ini, masyarakat di Aceh Tamiang meminta Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) dan pihak terkait untuk turun tangan lebih serius dalam memastikan pemenuhan hak-hak anak pasca bencana. Mulai dari jaminan pendidikan darurat, layanan kesehatan dan psikologis, hingga perlindungan dari risiko eksploitasi dan kekerasan.
“Kami berharap Komnas Anak dapat memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak Aceh Tamiang. Jangan biarkan mereka menjadi korban berlapis dari sebuah bencana,” ujar salah satu masyarakat setempat.
Ke depan, diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan agar anak-anak Aceh Tamiang tidak hanya menjadi objek bantuan sesaat, tetapi subjek utama dalam program pemulihan pasca bencana. Pemulihan sekolah, penyediaan ruang ramah anak, serta pendampingan trauma healing menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Banjir mungkin telah berlalu, namun tanggung jawab terhadap masa depan anak-anak Aceh Tamiang masih panjang. Mereka berhak tumbuh dengan aman, sehat, dan bermartabat—tanpa harus terus hidup dalam bayang-bayang bencana.

