- Aceh Tamiang, Aceh — Dalam misi kemanusiaan untuk mempercepat pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Aceh Tamiang, Satgaskes Gulben Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia (Puskes TNI) mengerahkan 24 tenaga kesehatan profesional yang terdiri dari dokter spesialis dan perawat dari tiga matra TNI (Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara).
- Sebelum diberangkatkan, seluruh personel menjalani pemeriksaan kesiapan di Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes) TNI, Kramat Jati, Jakarta, dan dinyatakan siap untuk bertugas di medan bencana.
- Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan dan pengobatan penyakit umum pascabanjir seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, diare, demam, serta edukasi kesehatan untuk mencegah timbulnya penyakit lanjutan.
Aceh Tamiang, Aceh — Dalam misi kemanusiaan untuk mempercepat pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Aceh Tamiang, Satgaskes Gulben Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia (Puskes TNI) mengerahkan 24 tenaga kesehatan profesional yang terdiri dari dokter spesialis dan perawat dari tiga matra TNI (Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara).

Sebelum diberangkatkan, seluruh personel menjalani pemeriksaan kesiapan di Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes) TNI, Kramat Jati, Jakarta, dan dinyatakan siap untuk bertugas di medan bencana. Setibanya di Aceh Tamiang, tim kesehatan langsung aktif memberikan layanan kesehatan baik secara terpusat di Markas Batalyon Infanteri 111 maupun secara mobile menjangkau warga di desa‑desa terpencil yang terdampak banjir.
Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan dan pengobatan penyakit umum pascabanjir seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, diare, demam, serta edukasi kesehatan untuk mencegah timbulnya penyakit lanjutan. Kehadiran tim medis TNI mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat, terutama di wilayah‑wilayah yang akses layanan kesehatannya sempat terhambat akibat terputusnya infrastruktur.

Skala Dampak Bencana di Aceh Tamiang
Bencana banjir dan longsor yang dipicu oleh curah hujan ekstrem beberapa pekan lalu telah membawa dampak besar di wilayah Aceh Tamiang dan sekitarnya:
* Korban mengungsi:Data BNPB menunjukkan lebih dari 150.484 jiwa warga Aceh Tamiang mengungsi karena rumah dan fasilitasnya terdampak banjir dan lumpur.
* Korban meninggal dan hilang: Hingga bila Desember 2025, tercatat 88 orang meninggal dunia 18 luka-luka menurut data sementara.
*Kerusakan rumah: Tercatat sebagian besar rumah warga mengalami kerusakan — mulai dari rusak ringan hingga berat 34.458 unit .
* Akses sulit & isolasi wilayah: Akses darat menuju beberapa kecamatan sempat terputus, mempersulit distribusi bantuan dan respons cepat di lapangan.
Secara keseluruhan, dampak bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra Utara dan Aceh sangat luas, dengan lebih dari ribuan korban tewas dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal, serta jutaan orang terdampak secara langsung di berbagai kabupaten/kota.
Respon Nasional & Dukungan Pemerintah
Pemerintah pusat terus memperkuat upaya tanggap darurat, termasuk menyalurkan bantuan logistik dan mempercepat akses ke wilayah terdampak. Kepala BNPB dan Menteri Dalam Negeri menegaskan fokus pada pemulihan fasilitas, penyediaan tenda serta shelter sementara, dan pembersihan material lumpur pascabanjir.
Upaya kolaboratif antara TNI, BNPB, Polri, pemerintah daerah, dan relawan terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat, kesehatan, dan pemulihan sektor vital dapat segera dipulihkan.

