- Aceh Tamiang, minggu (7/12/2025) — Banjir besar yang melanda seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tamiang sejak beberapa hari terakhir kian mengkhawatirkan.
- Sebanyak 262.087 jiwa terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi penampungan darurat, sementara 36.838 jiwa lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing meski terisolasi oleh tingginya genangan.
- Selain korban jiwa, banjir juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur.
Aceh Tamiang, minggu (7/12/2025) — Banjir besar yang melanda seluruh wilayah Kabupaten Aceh Tamiang sejak beberapa hari terakhir kian mengkhawatirkan. Hingga Sabtu siang, pukul 12.00 WIB, Posko Terpadu Penanganan Banjir Aceh Tamiang merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa seluruh 12 kecamatan terdampak banjir dengan skala kerusakan dan jumlah korban yang terus bertambah.

Sebanyak 262.087 jiwa terpaksa mengungsi ke berbagai lokasi penampungan darurat, sementara 36.838 jiwa lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing meski terisolasi oleh tingginya genangan. Hingga laporan ini diterbitkan, terdapat 18 warga mengalami luka-luka, 57 orang meninggal dunia, serta 22 warga masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian tim SAR gabungan.
Selain korban jiwa, banjir juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur. Tercatat 2.262 unit rumah rusak, dengan 780 di antaranya rusak berat dan 35 rusak sedang. Fasilitas umum pun ikut terdampak: 54 sarana pendidikan rusak, termasuk 3 sekolah mengalami kerusakan berat. Sementara itu, 40 sarana kesehatan, 33 rumah ibadah, 2 rumah ibadah rusak berat, 32 sarana perkantoran, serta 1 perkantoran rusak berat, ikut porak-poranda. Satu jembatan putus menyebabkan akses ke beberapa desa sepenuhnya terputus.
Tidak hanya menghadapi kerusakan fisik dan kehilangan, ribuan pengungsi mulai mengalami masalah kesehatan. Banyak warga, terutama anak-anak, mengeluhkan gatal-gatal akibat kondisi tempat pengungsian yang lembap, sanitasi minim, dan kontak berkepanjangan dengan air banjir. Petugas kesehatan di posko melaporkan peningkatan kasus infeksi kulit, termasuk iritasi dan dermatitis akibat air kotor.
Selain itu, pendamping psikososial di lapangan mengungkapkan bahwa sebagian korban, khususnya yang kehilangan anggota keluarga atau rumahnya, mulai menunjukkan tanda-tanda trauma dan tekanan psikologis. Anak-anak dilaporkan mengalami ketakutan berlebih saat hujan turun, sementara orang dewasa merasakan kecemasan berkepanjangan dan kesulitan tidur.
Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, Basarnas, serta relawan kemanusiaan terus bekerja keras mengevakuasi warga, menyalurkan bantuan logistik, serta membuka akses ke wilayah yang terisolasi. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat curah hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Data ini berasal dari Posko Terpadu Penanganan Banjir Aceh Tamiang dan dapat diperbarui sewaktu-waktu mengikuti perkembangan di lapangan.

