- Aceh Timur – Di balik megahnya pidato tentang kesejahteraan rakyat dan deretan program yang kerap diumumkan, masih ada kisah pilu yang seolah luput dari perhatian.
- Dinding yang mulai lapuk, bagian rumah yang rusak, serta kondisi bangunan yang jauh dari kata layak menjadi saksi bisu perjuangan seorang ibu yang berusaha bertahan demi masa depan anak-anaknya.
- Harapan agar suatu hari ada mata yang melihat, ada telinga yang mendengar, dan ada tangan yang tergerak untuk membantu.
Aceh Timur – Di balik megahnya pidato tentang kesejahteraan rakyat dan deretan program yang kerap diumumkan, masih ada kisah pilu yang seolah luput dari perhatian. Di Dusun Lhok Jaloh, Gampong Buket Rumia, Kecamatan Idi Cut, Kabupaten Aceh Timur, seorang janda bernama Marlina bersama dua anaknya menjalani hari-hari dalam sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan, pada Minggu, 21 Juni 2026.
Dinding yang mulai lapuk, bagian rumah yang rusak, serta kondisi bangunan yang jauh dari kata layak menjadi saksi bisu perjuangan seorang ibu yang berusaha bertahan demi masa depan anak-anaknya. Saat hujan turun, yang hadir bukan hanya tetesan air dari langit, tetapi juga kekhawatiran yang menyelimuti hati seorang ibu tentang keselamatan buah hatinya.
Di rumah sederhana itu, Marlina tidak memiliki kemewahan. Yang ia miliki hanyalah harapan. Harapan agar suatu hari ada mata yang melihat, ada telinga yang mendengar, dan ada tangan yang tergerak untuk membantu.
Informasi mengenai kondisi Marlina disampaikan oleh Zubir Almas, Wakil Penasehat Grup Aceh Bersatu (GAB). Ia mengaku prihatin setelah melihat langsung kehidupan yang dijalani ibu dua anak tersebut.
“Di tengah banyaknya program bantuan dan pembangunan yang digaungkan, masih ada warga yang hidup dalam kondisi seperti ini. Semoga ada perhatian dari pihak terkait maupun para dermawan,” ujar Zubir.
Kisah Marlina seakan menjadi cermin yang memantulkan realitas yang kerap tersembunyi di balik laporan-laporan indah. Ketika angka kemiskinan dibahas di ruang rapat berpendingin udara, ada seorang ibu yang setiap hari harus memikirkan bagaimana melindungi anak-anaknya di rumah yang nyaris kehilangan kelayakan sebagai tempat tinggal.
Mungkin bagi sebagian orang, rumah itu hanya bangunan tua yang rusak. Namun bagi Marlina dan kedua anaknya, itulah satu-satunya tempat mereka pulang, tempat mereka berteduh, dan tempat mereka menyimpan mimpi-mimpi kecil yang belum tentu didengar oleh mereka yang memiliki kekuasaan.
Ironisnya, di saat berbagai proyek pembangunan terus berjalan dan baliho-baliho keberhasilan berdiri megah di pinggir jalan, masih ada rakyat kecil yang berharap sekadar memiliki rumah yang aman untuk ditinggali. Seolah-olah suara mereka tenggelam di antara gemuruh tepuk tangan dan janji-janji yang tak pernah sampai ke halaman rumah mereka.
Kini Marlina hanya bisa berharap. Berharap ada kepedulian yang datang sebelum rumah itu benar-benar tak mampu lagi melindungi dirinya dan kedua anaknya. Sebab bagi rakyat kecil, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan harapan untuk tetap bertahan hidup.
Dan mungkin, kondisi ini menjadi pengingat akan pentingnya kehadiran negara untuk memastikan setiap warganya mendapatkan tempat tinggal yang layak dan aman.
Mega

