- BIREUEN — Kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana kembali ditunjukkan di Kabupaten Bireuen.
- Hal itu terlihat dalam Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) Berdampak Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh yang berlangsung di Meuligoe Residen Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Rabu (12/8/2026).
- Kehadiran HRD menjadi bagian penting dari perhatian nyata terhadap masyarakat Bireuen yang telah merasakan langsung dampak bencana.
Kabar Tujuh | Mega Melaporkan dari Bireuen
BIREUEN — Kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana kembali ditunjukkan di Kabupaten Bireuen. Di tengah proses pemulihan pascabencana hidrometeorologi, perhatian terhadap para penyintas tidak berhenti pada bantuan material semata, melainkan diarahkan pada penguatan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kemampuan menghadapi bencana secara mandiri.
Hal itu terlihat dalam Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) Berdampak Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh yang berlangsung di Meuligoe Residen Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Rabu (12/8/2026). Kegiatan yang menyasar ratusan masyarakat — khususnya warga pesisir dan penyintas bencana — dibuka langsung oleh Anggota Komisi V DPR RI H. Ruslan M. Daud, S.E., M.A.P., yang akrab disapa HRD.
Kehadiran HRD menjadi bagian penting dari perhatian nyata terhadap masyarakat Bireuen yang telah merasakan langsung dampak bencana. Pemulihan sejati tidak hanya membutuhkan bantuan saat bencana terjadi, tetapi juga bekal pengetahuan agar warga lebih siap, tenang, dan tangguh menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.
HRD: Penyintas Harus Dibekali, Bukan Hanya Dibantu
Dalam sambutannya, HRD menekankan bahwa edukasi kebencanaan adalah hal yang paling mendasar. Pengetahuan praktis tentang apa yang harus dilakukan saat bencana datang menjadi bekal utama untuk melindungi nyawa dan harta benda.
“Warga jadi tahu langkah apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Harapan kita bersama, bencana banjir maupun lainnya tidak terjadi lagi di Bireuen maupun Aceh secara umum,” ujar HRD.
Pesan ini mempertegas bahwa kepedulian kepada penyintas bukan sekadar memberi bantuan sesaat. Masyarakat perlu dibangun kembali kepercayaan dirinya, diperkuat kemampuannya, dan dibekali keterampilan menyelamatkan diri saat situasi darurat kembali terjadi.
Direktur Poltekpel Malahayati Aceh, Ir. Andi Fiardi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Edukasi diberikan agar masyarakat memahami langkah keselamatan dan tidak panik saat menghadapi bencana.
Ketua Panitia, Ir. Dedi Kurniawan, menambahkan bahwa program ini menyasar 6.400 warga di delapan kabupaten/kota se-Aceh — Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Khusus di Bireuen, Poltekpel Malahayati juga menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah kepada 400 murid TK dan SD Kelas 1, yang berasal dari SDN 2 Bireuen, SDN 10 Bireuen, SDN 12 Bireuen, TK Pembina Cot Gapu, TK Bintang, dan SD Muhammadiyah Bireuen, serta sejumlah sekolah lainnya di wilayah Bireuen.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali bangunan, tetapi juga membangun ketangguhan jiwa dan pengetahuan masyarakat agar lebih siap menghadapi segala kemungkinan di masa depan — melalui edukasi, kepedulian, dan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjut


