- ACEH UTARA – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan Zubir Almas bersama perantau Aceh di Malaysia setelah melihat langsung kondisi M.
- Yahya menyusuri alur mencari daun paku untuk dijual ke pasar.
- Dinding yang rapuh, atap yang mulai rusak, dan bangunan yang nyaris tak lagi memberikan rasa aman menjadi saksi perjuangan seorang lelaki tua yang bertahan tanpa banyak mengeluh.
Kabar Tujuh | Mega Melaporkan dari Aceh Utara
ACEH UTARA – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan Zubir Almas bersama perantau Aceh di Malaysia setelah melihat langsung kondisi M. Yahya (93), warga Desa Ceumeucot, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (7/7/2026). Di usia senja, ketika banyak orang menikmati masa tua bersama keluarga, M. Yahya justru menjalani hidup seorang diri dalam keterbatasan.

Hampir setiap hari, M. Yahya menyusuri alur mencari daun paku untuk dijual ke pasar. Dari hasil itulah ia memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari agar dapurnya tetap berasap.
Rumah yang ditempatinya pun memprihatinkan. Dinding yang rapuh, atap yang mulai rusak, dan bangunan yang nyaris tak lagi memberikan rasa aman menjadi saksi perjuangan seorang lelaki tua yang bertahan tanpa banyak mengeluh.
Yang paling menyentuh, M. Yahya tidak pernah menuntut banyak. Ia hanya berharap masih memiliki tempat berteduh dan diberi kesehatan agar dapat terus menunaikan salat lima waktu. Baginya, itu sudah menjadi nikmat yang patut disyukuri.
Kondisi yang dialami M. Yahya menjadi potret bahwa masih ada warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan. Di tengah berbagai program penanggulangan kemiskinan dan bantuan sosial yang terus berjalan, kisah ini menjadi pengingat pentingnya pendataan yang akurat dan penyaluran bantuan yang tepat sasaran agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak luput dari perhatian.
Kisah M. Yahya juga memunculkan harapan masyarakat agar perhatian terhadap warga rentan tidak hanya hadir ketika sebuah kisah menjadi viral, tetapi menjadi bagian dari kepedulian yang berkelanjutan. Sebab masih mungkin ada warga lain yang mengalami kondisi serupa, namun memilih diam karena tidak tahu harus mengadu kepada siapa.
Kepedulian yang ditunjukkan Zubir Almas bersama perantau Aceh di Malaysia diharapkan menjadi awal lahirnya langkah nyata dari berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, maupun masyarakat luas, untuk membantu M. Yahya menjalani sisa usianya dengan lebih layak.
Kisah M. Yahya bukan sekadar potret kemiskinan, tetapi juga cerminan bahwa masih ada pekerjaan bersama yang harus diselesaikan. Ukuran kemajuan sebuah daerah bukan hanya dilihat dari pembangunan fisik atau besarnya anggaran, melainkan juga dari sejauh mana masyarakat yang paling rentan dapat merasakan kehadiran dan kepedulian semua pihak.
Hingga berita ini diterbitkan, M. Yahya masih bertahan di rumah sederhananya. Harapannya sederhana: memiliki tempat tinggal yang layak dan dapat menjalani sisa hidupnya dengan tenang serta bermartabat.

