- BANDA ACEH— Ada perjalanan yang tidak dibentuk oleh satu kemenangan.
- Kisah itu melekat pada sosok Ir.
- Justru dari posisi itulah tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat menjadi semakin besar.
BANDA ACEH— Ada perjalanan yang tidak dibentuk oleh satu kemenangan. Ia tumbuh dari proses panjang, dari ruang birokrasi, dunia organisasi, hingga politik. Ada pula gagasan yang tidak lahir dari ruang rapat semata, tetapi dari pengalaman melihat langsung bagaimana sebuah daerah berjuang menemukan jalan menuju kemajuan.
Kisah itu melekat pada sosok Ir. Nurchalis, SP, M.Si, Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Aceh.
Bagi Nurchalis, jabatan bukanlah garis akhir. Justru dari posisi itulah tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat menjadi semakin besar.
Salah satu gagasan yang terus ia dorong adalah bagaimana kawasan Barat Selatan Aceh (Barsela) dapat tumbuh sebagai kekuatan ekonomi baru.
Barsela bukan sekadar hamparan wilayah di ujung barat Aceh. Di dalamnya terdapat Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Kota Subulussalam hingga Simeulue. Masing-masing memiliki karakter, sumber daya dan keunggulan yang berbeda.
Namun, bagi Nurchalis, perbedaan tersebut bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.
Justru di situlah kekuatannya.
Nurchalis melihat persoalan pembangunan Aceh dari sudut pandang yang sederhana, tetapi mendasar: daerah tidak cukup hanya memiliki kekayaan alam.
Sumber daya harus diolah. Hasil produksi harus memiliki nilai tambah. Dan masyarakat harus menjadi bagian utama dari proses tersebut.
Potensi pertambangan, batu bara, hasil laut, perkebunan sawit hingga posisi strategis kawasan pesisir Samudra Hindia, menurutnya, merupakan modal besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal.
Dari pemikiran itulah muncul gagasan 3M: Mengelola di Aceh, Memproduksi di Aceh, dan Menjual dari Aceh.
Gagasan itu menjadi semacam ajakan agar Aceh tidak terus berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku.
Sebab, nilai ekonomi terbesar bukan hanya berada pada apa yang diambil dari tanah dan laut, tetapi pada apa yang mampu diciptakan setelahnya.
Jika hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan sumber daya alam dapat diproses di daerah, maka manfaatnya akan bergerak lebih jauh: membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat ekonomi lokal.
Nurchalis percaya tidak ada satu pemerintah daerah yang mampu membangun kawasan besar sendirian.
Karena itu, ia menawarkan kolaborasi sebagai fondasi.
Pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi dan masyarakat harus berada dalam satu ekosistem pembangunan. Kabupaten dan kota di kawasan Barsela perlu duduk bersama, menyusun agenda yang saling terhubung dan tidak lagi berjalan secara parsial.
Di titik ini, pembangunan tidak lagi sekadar berbicara tentang proyek.
Pembangunan adalah bagaimana menciptakan sebuah ekosistem.
Jalan dan jembatan memang penting. Pelabuhan juga penting. Tetapi semuanya akan kehilangan makna jika tidak mampu menggerakkan aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu potensi kolaborasi yang juga menjadi perhatian Nurchalis adalah dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Menurutnya, CSR memiliki peluang besar untuk menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat apabila dikelola secara lebih terarah dan terintegrasi dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Perusahaan tidak harus ditempatkan sekadar sebagai pihak yang menjalankan kewajiban sosial.
Lebih dari itu, dunia usaha dapat menjadi mitra strategis pemerintah.
Ketika pemerintah memiliki kebijakan, perusahaan memiliki sumber daya, perguruan tinggi memiliki pengetahuan, dan masyarakat memiliki pengalaman serta kebutuhan nyata, keempat unsur tersebut dapat dipertemukan dalam satu agenda pembangunan.
Di situlah kolaborasi menemukan maknanya.
Bagi Nurchalis, pembangunan juga membutuhkan pengetahuan.
Karena itu, perguruan tinggi didorong untuk mengambil peran lebih besar. Kampus tidak hanya menjadi tempat mencetak sarjana, tetapi juga harus menjadi pusat riset yang mampu menjawab persoalan daerah.
Pengetahuan harus turun ke lapangan.
Riset harus menemukan persoalan nyata.
Dan hasil penelitian harus dapat diterjemahkan menjadi kebijakan maupun solusi yang dirasakan masyarakat.
Pandangan tersebut tidak terlepas dari perjalanan pendidikan Nurchalis sendiri.
Ia menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral di bidang ilmu pertanian. Baginya, belajar bukan sekadar mengejar gelar, tetapi bagian dari proses meningkatkan kualitas pengabdian.
Sebelum dikenal sebagai politisi, Nurchalis menjalani perjalanan panjang di birokrasi.
Lahir di Alue Tho, Nagan Raya, 23 Juli 1973, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.
Karier profesionalnya dimulai di lingkungan Kementerian Kehutanan dan Perkebunan pada 2000. Perjalanan kemudian membawanya ke sejumlah posisi di pemerintahan Aceh hingga dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis.
Di luar birokrasi, ia juga aktif dalam organisasi profesi, kepemudaan dan dunia usaha.
Namun, jalan politik yang dipilihnya tidak selalu menghasilkan kemenangan.
Ia pernah maju sebagai calon Wakil Bupati Nagan Raya pada 2007 dan calon Bupati Nagan Raya pada 2017. Dua pengalaman politik tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang justru memperkuat karakternya.
Kegagalan tidak membuatnya berhenti.
Sebaliknya, kegagalan menjadi ruang untuk mengevaluasi diri.
Hingga akhirnya, ketekunan tersebut membawanya dipercaya menjadi Ketua Fraksi Partai NasDem DPR Aceh periode 2025–2029.
Ada benang merah dari perjalanan Nurchalis: pengalaman menjadi bahan bakar untuk melahirkan gagasan.
Birokrasi memberinya pengalaman tentang pemerintahan.
Organisasi memperluas jejaring dan cara pandangnya.
Pendidikan memperkuat pengetahuan.
Sementara politik memberinya ruang untuk memperjuangkan kebijakan.
Semua pengalaman itu kemudian bertemu dalam satu gagasan besar: bagaimana potensi daerah dapat benar-benar menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.
Pengakuan melalui Anugerah Gebrakan Sang Pemimpin dalam Serambi Awards 2026 menjadi salah satu penanda atas perjalanan tersebut.
Namun, penghargaan bukanlah akhir cerita.
Justru tantangan berikutnya jauh lebih besar: memastikan gagasan tentang kolaborasi, hilirisasi, penguatan ekonomi dan pembangunan kawasan Barsela tidak berhenti sebagai wacana.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya seberapa banyak penghargaan yang diterima.
Melainkan seberapa jauh gagasan yang diperjuangkan mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Dan Nurchalis tampaknya masih memilih jalan yang sama: terus berjalan, terus memperjuangkan, dan terus percaya bahwa Aceh memiliki potensi besar untuk tumbuh ketika seluruh kekuatannya bergerak bersama.


