- Saumlaki – Proyek migas raksasa yang digarap PT Inpex Masela, Ltd kembali menjadi sorotan.
- Tuntutan itu mengemuka setelah beberapa supir rental mobil Tanimbar mengaku bahwa General Service (GS) Inpex di Saumlaki menghubungi mereka secara langsung agar mobil-mobil mereka dipakai ke salah satu Vendor lokal.
- Jika penawaran langsung dari pegawai Inpex, lalu vendor kerjanya apa?
Saumlaki – Proyek migas raksasa yang digarap PT Inpex Masela, Ltd kembali menjadi sorotan. LSM Aliansi Tanimbar Raya (Altar) dan Jaringan Aktivis Muda Tanimbar (JAM-T) menuding adanya praktik diskriminasi dalam proses pengadaan barang dan jasa pada jasa transportasi darat (mobil rental). Mereka mendesak Inpex menghentikan perlakuan tidak adil dan memberi kesempatan yang sama kepada pelaku usaha lokal Tanimbar.
Tuntutan itu mengemuka setelah beberapa supir rental mobil Tanimbar mengaku bahwa General Service (GS) Inpex di Saumlaki menghubungi mereka secara langsung agar mobil-mobil mereka dipakai ke salah satu Vendor lokal. Ini kerja seles bukan GS.
Jika penawaran langsung dari pegawai Inpex, lalu vendor kerjanya apa? Ataukah karyawan Inpex dimaksud diduga ingin mendapatkan bonus alias vee dari vendor rental mobil di Tanimbar.
Ini pembunuhan bagi dunia usaha di Tanimbar. Lebih parah lagi, karyawan Inpex itu menjanjikan pekerjaan yang telah disiapkan bagi salah satu driver lokal d kota Saumlaki, tegas LSM Altar.
*Vendor Lokal Merasa “Anak Tiri”*
LSM Altar, menyebut masih banyak vendor lokal yang tersingkir meski secara kapasitas dan sertifikasi sudah memenuhi syarat.
“Kami dapat laporan dari lapangan. Vendor lokal sering gugur di tahap administrasi dengan alasan yang tidak jelas. Padahal perusahaan yang lain dengan kualifikasi sama justru lolos. Ini bentuk diskriminasi yang nyata,” ujar LSM Altar
Menurutnya, masalah utama ada pada ketidak terbukanya informasi. Kami pernah lakukan aksi di kantor perwakilan Inpex Saumlaki 11 April 2026 lalu dan sudah ada kesepakatan bersama pihak Inpex yg diwakili Ibu Dian Fiana Ratna Dewi, Manager Social Performance & Land Acquisition INPEX Masela yang salah satu pointnya adalah melibatkan vendor lokal. Namun baru beberapa bulan setelah pertemuan itu, lagi-lagi Inpex berulah melalui GS nya di Saumlaki.
Ini potensi konflik yang harus diselesaikan menjelang ground breaking. Namun jika diabaikan maka kami pastikan akan mendatangi kantor perwakilan Inpex dalam waktu dekat sebelum ground breaking 16 Juli 2026 nanti.
*Dampak ke Ekonomi Daerah*
Senada, Ketua Jaringan Aktivis Muda Tanimbar (JAM-T), mengatakan dampaknya langsung terasa ke ekonomi masyarakat Tanimbar.
“Proyek Inpex itu ada di Tanimbar. Harusnya multiplayer effect-nya ke Tanimbar dan Maluku. Tapi faktanya ada Vendor lokal yang punya jasa transportasi, tidak kebagian,” jelas Ketua JAM-T
Ia menambahkan, diskriminasi ini bertentangan dengan amanat UU Migas dan semangat hilirisasi yang dicanangkan pemerintah. “Negara sudah kasih izin, kasih konsesi. Masa vendor anak Tanimbar tidak diberi ruang?”
Untuk itu kami minta “Stop diskriminasi. Beri kesempatan sama. Kalau Inpex serius mendukung pembangunan nasional, buktikan lewat keterlibatan vendor lokal,” seru Ketua JAM-T
*Tanggapan Inpex*
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Inpex Masela Ltd belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi belum mendapat jawaban.
Sebelumnya, Inpex dalam beberapa kesempatan menyatakan komitmen menjalankan program pengembangan masyarakat dan penggunaan komponen di Tanimbar. Namun LSM menilai komitmen itu belum berjalan optimal di lapangan.
*KemenESDM Diminta Turun Tangan*
LSM Altar dan JAM-T meminta Kementerian ESDM segera melakukan audit.
“SKK Migas harus ketat mengawasi. Jangan sampai kontraktor KKS mengabaikan aturan TKDN dan pemberdayaan masyarakat Tanimbar. Kalau ada diskriminasi, beri sanksi tegas,” katanya.
Ia juga mendorong dibuatnya dashboard keterlibatan vendor lokal agar publik bisa memantau langsung berapa persen keterlibatan usaha daerah di setiap proyek migas. Ground Breaking baru akan dilaksanakan namun praktek KKN di tubuh Perwakilan Inpex Saumlaki sudah mulai tercium. Jangan sampai pelaku usaha di Tanimbar jadi penonton di tanah sendiri.
Proyek Lapangan Abadi Masela yang dikelola Inpex ditargetkan melakukan ground breaking pada 16 Juli mendatang. Dengan investasi lebih dari 20 miliar USD, proyek ini diharapkan menjadi salah satu penopang ketahanan energi nasional.
Namun tanpa keterlibatan vendor lokal yang adil, kata para aktivis, manfaat ekonomi dari proyek sebesar itu tidak akan dirasakan secara merata.

