- BIREUEN – Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan masyarakat, ketersediaan BBM subsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU di Kabupaten Bireuen dikeluhkan semakin terbatas.
- Sejumlah warga mengaku dalam beberapa waktu terakhir pasokan Pertalite lebih cepat habis dibanding biasanya.
- Saat wartawan melakukan peninjauan ke lokasi sekaligus mewawancarai pihak terkait, kondisi tersebut diperkuat oleh keterangan salah satu karyawan SPBU di Kabupaten Bireuen yang meminta tidak disebutkan namanya.
Kabar Tujuh | Mega Melaporkan dari Bireuen
BIREUEN – Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan masyarakat, ketersediaan BBM subsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU di Kabupaten Bireuen dikeluhkan semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan memperoleh Pertalite dan akhirnya memilih menggunakan Pertamax yang harganya lebih tinggi.
Sejumlah warga mengaku dalam beberapa waktu terakhir pasokan Pertalite lebih cepat habis dibanding biasanya. Akibatnya, antrean kendaraan di SPBU kerap terjadi mulai siang hingga menjelang malam di berbagai titik wilayah Bireuen. Banyak warga harus rela menunggu berjam-jam, sementara tidak sedikit konsumen yang pulang tanpa mendapatkan BBM subsidi.
Saat wartawan melakukan peninjauan ke lokasi sekaligus mewawancarai pihak terkait, kondisi tersebut diperkuat oleh keterangan salah satu karyawan SPBU di Kabupaten Bireuen yang meminta tidak disebutkan namanya. Ia menyatakan bahwa pasokan Pertalite yang diterima mengalami penurunan signifikan.
“Biasanya dalam satu hari kami menerima sekitar 16 ton Pertalite. Sekarang yang datang hanya sekitar 8 ton per hari,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Berkurangnya pasokan tersebut berdampak langsung terhadap ketersediaan Pertalite di lapangan. Stok disebut lebih cepat habis sehingga masyarakat yang datang pada siang atau sore hari kerap tidak lagi memperoleh BBM subsidi.
Di sisi lain, tingginya kebutuhan Pertalite juga dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pengguna. Sejumlah masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi kini beralih ke Pertalite sebagai upaya mengurangi beban pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Salah satu konsumen di Bireuen yang juga ditemui saat peliputan di lokasi mengaku tidak memiliki banyak pilihan ketika Pertalite tidak lagi tersedia di SPBU.
“Kalau Pertalite sudah habis, mau tidak mau kami isi Pertamax, padahal harganya lebih mahal,” keluhnya.
Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan masyarakat, terutama pengemudi ojek, pekerja harian, pelaku UMKM, hingga warga yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.
Masyarakat berharap adanya penjelasan resmi mengenai kondisi distribusi Pertalite di Kabupaten Bireuen. Jika memang terjadi pengurangan kuota, publik menilai perlu ada informasi yang terbuka mengenai penyebabnya, langkah penanganan yang dilakukan, serta kepastian kapan pasokan dapat kembali normal.
Hingga berita ini ditayangkan, Kabar Tujuh masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak terkait, termasuk Pertamina, guna mendapatkan penjelasan resmi mengenai kondisi pasokan Pertalite di Kabupaten Bireuen.

