- BIREUEN — Suasana haru dan bangga menyelimuti prosesi wisuda di Pesantren Modern Ummulqura Antarabangsa, Kabupaten Bireuen, Selasa (5/5/2026).
- Siswi Madrasah Aliyah Ummulqura ini berhasil meraih Juara 1 di sekolah serta Juara 2 dalam ajang tahfidz Al-Qur’an.
- Perjalanan prestasinya semakin terlihat sejak tahun 2024, saat Nawwaf mulai aktif mengikuti ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) cabang Fahmil Qur’an di tingkat kabupaten.
BIREUEN — Suasana haru dan bangga menyelimuti prosesi wisuda di Pesantren Modern Ummulqura Antarabangsa, Kabupaten Bireuen, Selasa (5/5/2026). Di antara para wisudawan, sosok Naurah Rafiqa Nawwaf (17) tampil mencuri perhatian—bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga kisah perjuangan yang menyertainya.
Siswi Madrasah Aliyah Ummulqura ini berhasil meraih Juara 1 di sekolah serta Juara 2 dalam ajang tahfidz Al-Qur’an. Tak hanya itu, Nawwaf juga telah menghafal 16 juz Al-Qur’an, sebuah capaian yang membutuhkan ketekunan, disiplin, dan konsistensi tinggi.
Perjalanan prestasinya semakin terlihat sejak tahun 2024, saat Nawwaf mulai aktif mengikuti ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) cabang Fahmil Qur’an di tingkat kabupaten. Upayanya terus berlanjut hingga berhasil tampil di tingkat provinsi pada November 2025 lalu.
Kesibukan mengikuti ajang tersebut sempat membuatnya menunda penambahan hafalan baru. Namun, Nawwaf tetap menjaga kualitas hafalannya dengan rutin melakukan muraja’ah terhadap juz-juz yang telah dikuasai.
Sejumlah capaian tersebut menempatkan Nawwaf sebagai salah satu siswi berprestasi di lingkungannya, baik di bidang akademik maupun keagamaan.
Bagi Nawwaf, prestasi itu bukanlah akhir, melainkan langkah awal menuju cita-cita yang lebih besar: menjadi seorang dokter.
Jejak Mimpi yang Terhenti
Di balik tekad itu, tersimpan kisah yang membentuk arah hidupnya. Ayah Nawwaf, Mohd Taufik, merupakan penyandang disabilitas netra yang telah kehilangan penglihatannya sejak tahun 1993.
Sebelumnya, ia sempat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh pada tahun 1991. Namun, kondisi tersebut membuatnya harus menghentikan pendidikan dan merelakan cita-citanya menjadi dokter.
Kisah itu kemudian menjadi inspirasi kuat bagi Nawwaf.
“Saya ingin melanjutkan cita-cita Abah yang belum tercapai. Insya Allah saya ingin menjadi dokter dan bisa membantu banyak orang,” ujarnya.
Tumbuh dalam Kesederhanaan
Nawwaf merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di Desa Bandar Bireuen, Kecamatan Kota Juang. Kedua adiknya saat ini menempuh pendidikan di pesantren.
Ibunya, Usmiana, berperan sebagai ibu rumah tangga yang terus mendampingi dan memberikan dukungan. Bersama sang suami, ia juga aktif dalam kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.
Di tengah keterbatasan ekonomi, keluarga ini tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.
Sehari-hari, Nawwaf membagi waktu antara belajar di sekolah dan menghafal Al-Qur’an dengan disiplin tinggi.
Menapaki Jalan Menuju Kedokteran
Cita-cita menjadi dokter bukanlah jalan yang mudah. Biaya pendidikan yang tinggi menjadi tantangan nyata bagi Nawwaf dan keluarganya.
Meski demikian, semangatnya tidak surut. Ia terus berupaya meningkatkan prestasi sebagai bekal untuk membuka peluang melanjutkan pendidikan.
Pihak keluarga berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait terhadap anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu.
“Harapan kami, semoga ada perhatian dari pemerintah, agar anak kami dan juga anak-anak lain dengan kondisi serupa bisa mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan, khususnya melalui jalur beasiswa,” ujar Usmiana.
Lebih dari Sekadar Prestasi
Kisah Nawwaf bukan sekadar tentang capaian akademik atau hafalan Al-Qur’an, tetapi juga tentang keteguhan menghadapi keterbatasan dan menjaga harapan tetap hidup.
Di momen wisuda yang menjadi simbol pencapaian, Nawwaf justru sedang memulai perjalanan panjang menuju masa depan yang diimpikannya.
Dengan hafalan 16 juz, prestasi akademik, dan tekad yang kuat, ia melangkah membawa satu tujuan: mewujudkan cita-cita yang pernah tertunda, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
(Mega)

