- BIREUEN — Pekan Literasi Daerah Kabupaten Bireuen 2026 menjadi ajang pertemuan lintas daerah yang bermakna.
- Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bireuen di Gedung Perpustakaan Daerah Bireuen, Selasa (6/10/2026), sekaligus memperingati HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, mengusung tema: “Bireuen Membaca, Bireuen Berkarya dan Bireuen Berdaya”.
- - Bunda Literasi Lhokseumawe — diwakili Kepala Dispusip Kota Lhokseumawe, Mirodiyatun Resi Nuridayati, S.Sos., M.Pd.
KABAR TUJUH | MEGA — Pantauan Langsung
Mengabarkan Fakta, Menyuarakan Kebenaran
BIREUEN — Pekan Literasi Daerah Kabupaten Bireuen 2026 menjadi ajang pertemuan lintas daerah yang bermakna. Lima Bunda Literasi dari sejumlah kabupaten/kota di Aceh hadir, menyatukan semangat untuk mendekatkan budaya membaca kepada masyarakat — di tengah derasnya arus informasi digital.

Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bireuen di Gedung Perpustakaan Daerah Bireuen, Selasa (6/10/2026), sekaligus memperingati HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, mengusung tema: “Bireuen Membaca, Bireuen Berkarya dan Bireuen Berdaya”.

Hadir lima Bunda Literasi:
– Bunda Literasi Bireuen — Hj. Sadriah Mukhlis
– Bunda Literasi Aceh Utara — Ny. Musliana Ismail
– Bunda Literasi Aceh Timur — Dr. Lismawani Iskandar Al-Farlaky, S.Pd., M.Ag.
– Bunda Literasi Pidie — Nurhalisa
– Bunda Literasi Lhokseumawe — diwakili Kepala Dispusip Kota Lhokseumawe, Mirodiyatun Resi Nuridayati, S.Sos., M.Pd.
Pertemuan ini menegaskan: gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri. Pengalaman, gagasan, dan semangat dari berbagai daerah perlu saling menguatkan.
Wakil Bupati Bireuen, Ir. H. Razuardi, M.T., yang membuka kegiatan, menegaskan pembangunan daerah bukan hanya soal fisik dan ekonomi, melainkan kualitas sumber daya manusia.
“Masyarakat perlu mampu memperoleh, memahami, mengolah, dan memilah informasi — terlebih saat teknologi membuat informasi begitu mudah beredar. Jika budaya membaca tumbuh, pengetahuan tumbuh. Jika pengetahuan tumbuh, masyarakat mampu berkarya dan berdaya. Inilah investasi jangka panjang bagi masa depan Bireuen,” ujarnya.
Ia mendorong Dispusip memperluas jangkauan literasi ke sekolah dan desa, termasuk melalui perpustakaan keliling, komunitas, dan pemanfaatan teknologi digital.
Sementara itu, Bunda Literasi Bireuen, Hj. Sadriah Mukhlis, menekankan peran keluarga sebagai fondasi:
“Mari jadikan rumah sebagai rumah literasi, sekolah sebagai taman ilmu, dan perpustakaan sebagai ruang bertemu.”
Ia mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar membaca buku, melainkan kemampuan memahami, menganalisis, dan memilah informasi secara bijak — terutama di era gawai dan media sosial.
Kepala Dispusip Bireuen, Irfan, S.Pd., M.Pd., menyebut Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Bireuen tahun 2026 tercatat angka 61, mencakup jenjang PAUD, SD, SMP, hingga masyarakat umum. Penguatan budaya membaca butuh dukungan berkelanjutan dari semua pihak.
Pekan Literasi diisi talkshow, dongeng, pameran, serta berbagai lomba. Pemkab Bireuen juga menyerahkan penghargaan kepada pemenang Lomba Perpustakaan Desa Terbaik dan Lomba Resensi Buku tingkat SMP serta SMA/sederajat. Rangkaian ditutup dengan pembukaan Festival Literasi melalui pemotongan pita oleh Bunda Literasi Bireuen bersama Ketua BKMT Bireuen dan Bunda Literasi kabupaten/kota yang hadir.
Pada akhirnya, keberhasilan gerakan ini bukan hanya keramaian saat festival berlangsung. Tantangan sesungguhnya hadir setelah acara selesai: apakah kebiasaan membaca tumbuh di rumah, apakah perpustakaan semakin hidup, dan apakah masyarakat semakin cerdas menyikapi informasi setiap hari. Di situlah makna literasi sesungguhnya — membaca untuk mengetahui, memahami untuk bersikap, berkarya untuk memberi manfaat.
KABAR TUJUH | MEGA
Mengabarkan Fakta, Menyuarakan Kebenaran

