- BIREUEN — Hampir 10 bulan setelah bencana banjir dan longsor melanda Aceh, akses transportasi di kawasan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, memasuki babak baru.
- Menjelang pengoperasian tersebut, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H.
- Peninjauan dilakukan untuk memastikan sejumlah fasilitas pendukung telah siap sebelum jembatan dibuka bagi masyarakat, mulai dari kondisi pengaspalan, marka jalan, lampu penerangan hingga fasilitas keselamatan pengguna jalan.
KABAR TUJUH | MEGA
Mengabarkan Fakta, Menyuarakan Kebenaran
BIREUEN — Hampir 10 bulan setelah bencana banjir dan longsor melanda Aceh, akses transportasi di kawasan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, memasuki babak baru. Jembatan permanen yang selama ini dinantikan masyarakat telah rampung dan dijadwalkan mulai dioperasikan pada Minggu (20/9/2026).
Menjelang pengoperasian tersebut, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud (HRD), bersama Kepala Satker BPJN Wilayah II Aceh, Rizki Anugrah, meninjau kesiapan akhir jembatan pada Sabtu (19/9/2026).
Peninjauan dilakukan untuk memastikan sejumlah fasilitas pendukung telah siap sebelum jembatan dibuka bagi masyarakat, mulai dari kondisi pengaspalan, marka jalan, lampu penerangan hingga fasilitas keselamatan pengguna jalan.
HRD mengatakan, jembatan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat karena sebelumnya akses transportasi di kawasan itu terganggu setelah jembatan lama terdampak banjir. Kehadiran jembatan permanen diharapkan dapat mengembalikan kelancaran mobilitas sekaligus memperlancar distribusi barang.
“Jembatan ini sudah lama dinantikan masyarakat. Sebelumnya, masyarakat harus menghadapi antrean panjang setelah jembatan lama putus akibat banjir. Karena itu, mari kita sama-sama menjaga dan merawat jembatan ini demi keselamatan dan kenyamanan bersama serta agar dapat digunakan dalam jangka panjang,” ujar HRD.
Menurut HRD, kesiapan jembatan menjadi penting karena ruas tersebut merupakan bagian dari jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah Bireuen dengan daerah lainnya di Aceh.
“Kami ingin memastikan jembatan ini benar-benar siap dan aman untuk dilalui masyarakat mulai besok. Ini merupakan infrastruktur vital yang dinantikan masyarakat Aceh maupun pengguna jalan lintas Sumatra,” katanya.
HRD juga mengapresiasi percepatan pembangunan yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum melalui BPJN Wilayah II Aceh. Pembangunan jembatan duplikasi tersebut dilaporkan telah mencapai sekitar 99 persen dan ditargetkan dapat difungsikan sesuai jadwal.
Dengan beroperasinya jembatan baru, HRD berharap aktivitas masyarakat dan distribusi barang kembali berjalan lancar setelah sebelumnya sempat terganggu akibat kerusakan jembatan.
“Dengan rampungnya jembatan baru Kutablang Bireuen, kita berharap angkutan barang dan orang kembali normal, ekonomi masyarakat juga terus membaik dan harga barang kembali normal,” harapnya.
Jembatan Bailey Segera Dibongkar
Sementara itu, Kepala Satker BPJN Wilayah II Aceh, Rizki Anugrah, mengatakan pekerjaan struktural utama jembatan baru telah rampung, termasuk pengaspalan menggunakan lapisan AC-WC.
Pada H-1 pengoperasian, pekerjaan di lapangan difokuskan pada pembersihan material serta penyelesaian sejumlah fasilitas pelengkap.
“Besok jembatan baru ini akan langsung dibuka untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Dengan beroperasinya jembatan baru, sistem buka-tutup kendaraan yang selama ini diterapkan di jembatan darurat atau Bailey otomatis berakhir,” kata Rizki.
Selama proses pemulihan pascabencana, jembatan Bailey menjadi akses sementara yang menjaga konektivitas jalur tersebut tetap berjalan. Setelah jembatan permanen dibuka, jembatan darurat itu akan dibongkar secara bertahap.
BPJN selanjutnya akan melanjutkan penanganan terhadap struktur jembatan lama yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat terjangan banjir.
Jika seluruh pekerjaan rampung, kawasan Krueng Tingkeum Kutablang akan memiliki dua jembatan yang berdampingan atau jembatan kembar. Keberadaan dua jembatan tersebut diharapkan semakin memperkuat konektivitas pada jalur nasional Medan–Banda Aceh sekaligus mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.

