- ACEH TAMIANG – Krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Aceh Tamiang semakin mengkhawatirkan.
- Pantauan di lapangan menunjukkan ribuan kendaraan roda dua, mobil pribadi, angkutan umum, hingga truk logistik terjebak dalam antrean panjang yang memenuhi badan jalan.
- Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga mulai berdampak terhadap aktivitas ekonomi, distribusi barang, dan pelayanan transportasi.
ACEH TAMIANG – Krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Aceh Tamiang semakin mengkhawatirkan. Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Sabtu (11/7/2026), mengular hingga beberapa kilometer dan memicu kemacetan parah di sejumlah titik Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), jalur utama penghubung Aceh dengan Sumatera Utara.
Pantauan di lapangan menunjukkan ribuan kendaraan roda dua, mobil pribadi, angkutan umum, hingga truk logistik terjebak dalam antrean panjang yang memenuhi badan jalan. Arus lalu lintas di beberapa titik bergerak sangat lambat karena sebagian besar ruas jalan dipadati kendaraan yang menunggu giliran mengisi BBM.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga mulai berdampak terhadap aktivitas ekonomi, distribusi barang, dan pelayanan transportasi. Sejumlah pengendara mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam di dalam antrean dengan harapan memperoleh BBM yang kian sulit didapat.
Situasi ini memperpanjang beban masyarakat Aceh Tamiang yang sebelumnya masih berupaya memulihkan kondisi ekonomi pascabanjir. Kelangkaan BBM dinilai berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap harga kebutuhan pokok, biaya distribusi, hingga aktivitas usaha masyarakat apabila tidak segera diatasi.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti panjangnya antrean masih diduga berkaitan dengan terbatasnya pasokan BBM di sejumlah SPBU. Meski demikian, belum ada penjelasan resmi mengenai kondisi distribusi maupun penyebab terjadinya kelangkaan tersebut.
Media ini telah menghubungi Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) untuk meminta konfirmasi terkait kondisi distribusi dan pasokan BBM di Aceh Tamiang. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh tanggapan resmi.
Di tengah kondisi tersebut, Salah seorang warga mengusulkan agar Pertamina mengambil langkah strategis dengan memperluas titik distribusi BBM guna mengurangi penumpukan kendaraan di SPBU.
“Untuk memecah konsentrasi konsumen, mestinya pihak Pertamina juga memasok Pertalite ke Pertashop dan Pertamini yang tersebar di kecamatan dan desa,” ujar nya
Menurutnya, distribusi BBM yang lebih merata akan memudahkan masyarakat memperoleh bahan bakar di wilayah masing-masing sehingga tidak seluruh konsumen terpusat di SPBU. Langkah tersebut juga diyakini dapat membantu menekan harga BBM di tingkat pengecer agar tidak melonjak secara drastis.
Selain itu, ia meminta aparat penegak hukum bersama instansi terkait menindak tegas apabila ditemukan praktik penimbunan BBM yang dapat memperparah kelangkaan di lapangan.
“Juga menindak tegas para penimbun BBM,” tegasnya.
Di sisi lain, masyarakat mendesak pemerintah pusat melalui kementerian yang membidangi sektor energi agar segera melakukan intervensi terhadap persoalan distribusi BBM di Aceh Tamiang. Warga berharap langkah penanganan dilakukan secepat mungkin mengingat dampak yang mulai dirasakan oleh berbagai sektor.
Desakan serupa juga diarahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan DPRK Aceh Tamiang agar segera mengambil langkah nyata dalam mencari solusi. Masyarakat berharap penyelesaian tidak berhenti pada rapat koordinasi, inspeksi lapangan, atau pemanggilan pihak terkait semata, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret yang mampu memulihkan pasokan BBM, mengakhiri antrean panjang, serta mengembalikan kelancaran aktivitas masyarakat.
Perkembangan situasi distribusi BBM di Aceh Tamiang akan terus dipantau. Media kabartujuh juga tetap membuka ruang bagi Pertamina patra niaga maupun instansi terkait untuk memberikan penjelasan resmi sebagai bagian dari pemberitaan yang berimbang.

