BANGKALAN – Suasana duka sekaligus keterkejutan menyelimuti warga Desa Soket Laok, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Perselisihan yang bermula dari hal sepele, yakni aroma tidak sedap dari kandang unggas, berakhir dengan tragedi pembunuhan yang memilukan. Seorang pria berusia 40 tahun, Syaifuddin, tewas dibacok oleh ipar kandungnya sendiri, Jailani (50), pada Rabu (3/6) malam.
Peristiwa mengerikan itu terjadi sekitar pukul 19.30 WIB di kediaman korban. Awalnya, suasana tampak biasa saja ketika Jailani datang berkunjung ke rumah Syaifuddin. Keduanya sempat bersalaman dan mengobrol santai, seolah tak ada masalah apa pun. Bahkan, istri korban yang berinisial SY dan anak-anak mereka turut berada di lokasi dan menyaksikan interaksi tersebut tanpa curiga sedikit pun.
Namun, suasana berubah drastis hanya berselang beberapa menit. Tanpa pertengkaran atau peringatan sebelumnya, Jailani tiba-tiba mencabut sebilah celurit yang terselip di pinggangnya. Dengan kejam, ia langsung menebaskan senjata tajam itu ke bagian pinggang kiri tubuh Syaifuddin. Serangan mendadak itu membuat korban langsung ambruk ke tanah. Adegan mengerikan itu terlihat jelas di mata anggota keluarga yang histeris dan berteriak meminta tolong.
Usai melakukan perbuatan kejam tersebut, Jailani segera meninggalkan lokasi dan melarikan diri. Sementara itu, keluarga korban berupaya sekuat tenaga membawa Syaifuddin ke RSUD Syamrabu Bangkalan untuk mendapatkan pertolongan medis. Harapan agar nyawa korban masih bisa diselamatkan ternyata sia-sia. Luka sayatan yang diterima korban dinilai sangat fatal karena mengenai organ vital hingga ususnya terburai keluar.
Kasihumas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan kondisi korban saat ditemukan. Menurut keterangan yang diperoleh, nyawa Syaifuddin dikabarkan sudah tidak tertolong bahkan sebelum kendaraan tiba di depan pintu rumah sakit.
“Korban diduga sudah meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUD Syamrabu Bangkalan. Sebab, korban mengalami luka yang cukup serius, ususnya sampai terburai,” ungkap Ipda Agung Intama.
Dari hasil penyelidikan awal dan keterangan warga, motif pembunuhan ini diduga kuat dipicu oleh rasa kesal pelaku terhadap kandang bebek milik korban yang menebarkan bau tak sedap dan dianggap mengganggu. Sebelumnya, kedua belah pihak diketahui sempat terlibat kesalahpahaman terkait hal tersebut, namun belum diketahui secara rinci bagaimana kronologi pertikaian itu berkembang.
“Informasi dari keluarga ada kesalahpahaman, tetapi belum bisa kami jelaskan secara detail seperti apa,” tambah Agung.
Saat ini, pihak kepolisian masih terus berupaya memburu keberadaan Jailani yang hingga kini belum diketahui tempat persembunyiannya. Tim penyidik juga berencana menggali keterangan dari sejumlah saksi mata, namun prosesnya akan dilakukan secara hati-hati dan menyesuaikan situasi.
“Untuk proses pemeriksaan saksi tetap akan dilakukan polisi, tetapi menunggu momen yang tepat. Sebab, masih dalam suasana berkabung,” tegasnya.
Kasus ini kini menjadi sorotan warga setempat, sekaligus menjadi pelajaran pahit bagaimana masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah, justru berujung pada hilangnya nyawa dan merenggangkan hubungan kekeluargaan selamanya.(Mega)

