- BIREUEN – Di tengah bekas luka bencana banjir dan longsor yang sempat melumpuhkan lahan pertanian, para petani di Desa Pulo Siron, Kecamatan Kutablang, mulai menanam kembali harapan.
- Setelah berbulan-bulan lahan tertutup material dan tak bisa diolah, kini hamparan sawah seluas sekitar 85 hektar mulai kembali digarap.
- Selain memperbaiki infrastruktur sawah yang rusak, mereka juga harus beradaptasi dengan pola tanam baru melalui penggunaan varietas padi gogo yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi lahan pascabencana.
BIREUEN – Di tengah bekas luka bencana banjir dan longsor yang sempat melumpuhkan lahan pertanian, para petani di Desa Pulo Siron, Kecamatan Kutablang, mulai menanam kembali harapan. Penanaman perdana padi gogo bukan sekadar agenda seremonial, melainkan simbol kebangkitan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. 25 April 2026
Setelah berbulan-bulan lahan tertutup material dan tak bisa diolah, kini hamparan sawah seluas sekitar 85 hektar mulai kembali digarap. Para petani, dengan semangat gotong royong, turun langsung ke lapangan didampingi petugas penyuluh untuk memastikan proses tanam berjalan optimal.
Bagi warga setempat, pemulihan ini bukan perkara mudah. Selain memperbaiki infrastruktur sawah yang rusak, mereka juga harus beradaptasi dengan pola tanam baru melalui penggunaan varietas padi gogo yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi lahan pascabencana.
Salah satu petani mengungkapkan bahwa momen ini menjadi titik balik setelah masa sulit yang cukup panjang.
“Selama ini kami hanya bisa melihat sawah terbengkalai. Sekarang sudah bisa turun lagi, rasanya seperti mulai hidup baru,” ujarnya.
Kehadiran pemerintah melalui program rehabilitasi menjadi dorongan besar bagi para petani untuk kembali produktif. Namun di balik itu, semangat dan ketahanan masyarakat lokal menjadi faktor utama yang menggerakkan pemulihan secara nyata di lapangan.
Pendampingan teknis yang diberikan tidak hanya membantu proses tanam, tetapi juga membuka wawasan petani terhadap metode pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi alam yang tidak menentu.
Penanaman perdana ini pun diharapkan menjadi awal dari siklus pertanian yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani yang sempat terdampak cukup parah.
Kini, di antara jejak bencana yang masih tersisa, benih-benih padi gogo ditanam bersama harapan baru—bahwa tanah yang sempat rusak ini akan kembali memberi kehidupan bagi masyarakat Pulo Siron.(Mega)

