- Simon Wermasubun, wartawan muda yang juga wisudawan Sekolah Tinggi Teologia Injili Mahkota Sion (STTIMAS) Saumlaki, berhasil meraih gelar Sarjana Sosial dengan predikat Cum Laude pada Wisuda Angkatan ke-9 tahun 2025.
- Sejak kecil, Simon telah hidup jauh dari orang tua dan menempuh hidup mandiri.
- “Saya berjuang sendiri dan harus belajar karena ilmu pengetahuan saya yakini bisa mengubah nasib saya tanpa diwarisi modal kekayaan,” kenang Simon Wermasubun.
Simon Wermasubun, wartawan muda yang juga wisudawan Sekolah Tinggi Teologia Injili Mahkota Sion (STTIMAS) Saumlaki, berhasil meraih gelar Sarjana Sosial dengan predikat Cum Laude pada Wisuda Angkatan ke-9 tahun 2025. Prestasi ini menjadi kisah inspiratif dalam rangkaian acara wisuda yang berlangsung di Saumlaki.
Sejak kecil, Simon telah hidup jauh dari orang tua dan menempuh hidup mandiri. Dalam keterbatasan, ia berjuang membiayai pendidikan sendiri sambil bekerja sebagai wartawan nasional. Ketekunan itu berbuah hasil ketika ia diterima kuliah di STTIMAS Saumlaki pada tahun 2020. Sejak saat itu, berbagai tantangan ia hadapi dengan tekad kuat tanpa berpikir untuk menyerah.
“Saya berjuang sendiri dan harus belajar karena ilmu pengetahuan saya yakini bisa mengubah nasib saya tanpa diwarisi modal kekayaan,” kenang Simon Wermasubun.
Perjuangan tersebut mencapai puncaknya ketika Simon dinyatakan lulus dengan predikat Cum Laude, menduduki peringkat tiga dari 45 wisudawan. Ia mengaku keberhasilan itu tidak terlepas dari dukungan keluarga, para dosen, serta rekan-rekan seangkatan.
Simon juga tetap konsisten menjalankan profesinya sebagai wartawan selama masa kuliah. Baginya, pendidikan bukan hanya perkara nilai, tetapi bagaimana memanfaatkan peluang untuk membentuk karakter dan kemampuan diri. “Saya ingin kesuksesan ini bisa disaksikan oleh kedua orang tua saya ketika saya memakai toga,” ungkapnya penuh haru.
Kini, sebagai Sarjana Sosial, Simon memandang masa depan dengan optimistis. Ia bercita-cita tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan kemajuan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Kisah Simon menjadi bukti bahwa dengan tekad, pengalaman, pendidikan, serta dukungan orang-orang terdekat, seseorang dapat mewujudkan mimpi besar. Ia memegang teguh mottonya, “Gas Terus Jangan Tarik Rem,” sebagai prinsip hidup untuk terus melangkah tanpa ragu.

