- BIREUEN – Di tengah padatnya arus mudik Idul Fitri 1447 H, perjalanan panjang kerap membuat para pemudik kelelahan saat melintasi jalur utama Banda Aceh–Medan.
- Sebanyak 17 masjid disiagakan di titik-titik strategis, termasuk jalur lintas Bireuen–Takengon, untuk membantu para pemudik melepas lelah, menunaikan ibadah, hingga memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
- Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Bireuen, Zulkifli, mengatakan keberadaan masjid ramah pemudik menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat di momen penting seperti Lebaran.
BIREUEN – Di tengah padatnya arus mudik Idul Fitri 1447 H, perjalanan panjang kerap membuat para pemudik kelelahan saat melintasi jalur utama Banda Aceh–Medan. Menjawab kebutuhan itu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bireuen menghadirkan solusi sederhana namun bermakna: masjid sebagai tempat singgah yang nyaman dan terbuka bagi para musafir.
Sebanyak 17 masjid disiagakan di titik-titik strategis, termasuk jalur lintas Bireuen–Takengon, untuk membantu para pemudik melepas lelah, menunaikan ibadah, hingga memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Bireuen, Zulkifli, mengatakan keberadaan masjid ramah pemudik menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat di momen penting seperti Lebaran.
“Kami memahami perjalanan mudik bukan hal yang mudah. Karena itu, masjid kami dorong tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang istirahat yang nyaman bagi para pemudik,” ujarnya.
Ia menambahkan, wilayah Bireuen merupakan salah satu jalur vital yang setiap tahun dipadati kendaraan pemudik, sehingga keberadaan tempat singgah yang layak menjadi kebutuhan penting.
“Masjid harus bisa menjadi tempat yang menenangkan, bersih, dan terbuka bagi siapa saja. Ini bagian dari pelayanan umat sekaligus bentuk kepedulian kepada para musafir,” tambahnya.
Masjid-masjid tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, mulai dari Samalanga hingga Gandapura, yang selama ini dikenal sebagai titik-titik persinggahan di jalur mudik. Dengan fasilitas yang terus dijaga kebersihan dan kenyamanannya, para pemudik diharapkan dapat beristirahat dengan lebih layak.
Kemenag Bireuen juga mengimbau pengurus masjid untuk menyambut para pemudik dengan pelayanan terbaik, mulai dari menjaga kebersihan, menyediakan air bersih, hingga memastikan area ibadah tetap nyaman digunakan.
Di tengah hiruk-pikuk perjalanan mudik, kehadiran masjid ramah pemudik ini menjadi oase bagi para pelintas jalan—tempat sejenak berhenti, menenangkan diri, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman dengan kondisi yang lebih segar.(Mega)

