- BIREUEN — Antusiasme pelajar mengikuti seleksi calon atlet untuk Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XVIII Tahun 2027 cabang pencak silat di Kabupaten Bireuen terlihat sangat tinggi.
- Kegiatan penyeleksian dan penjaringan bakat ini berlangsung selama dua hari, yakni 12–13 Mei 2026.
- Dalam surat pemanggilan tersebut, peserta diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan administrasi ketat, antara lain melampirkan akta kelahiran, Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), surat keterangan sekolah, serta surat keterangan sehat dari dokter.
BIREUEN — Antusiasme pelajar mengikuti seleksi calon atlet untuk Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XVIII Tahun 2027 cabang pencak silat di Kabupaten Bireuen terlihat sangat tinggi. Arena pertandingan di GOR Geulumpang Payong dipenuhi atlet muda dari berbagai sekolah yang datang membawa semangat untuk mengharumkan nama sekolah masing-masing.
Kegiatan penyeleksian dan penjaringan bakat ini berlangsung selama dua hari, yakni 12–13 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan tahap awal dan sangat penting dalam rangka pembinaan, untuk memilih atlet terbaik yang nantinya akan mewakili Kabupaten Bireuen berlaga di ajang POPDA tingkat provinsi. Pelaksanaan kegiatan ini didasarkan pada surat resmi Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Bireuen nomor 400.4.10.1/131/2026 tertanggal 4 Mei 2026, yang ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas, Muhammad Al Muttaqin, S.Pd., M.Pd.
Dalam surat pemanggilan tersebut, peserta diwajibkan memenuhi sejumlah persyaratan administrasi ketat, antara lain melampirkan akta kelahiran, Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), surat keterangan sekolah, serta surat keterangan sehat dari dokter. Lokasi seleksi dibagi di beberapa titik strategis, meliputi GOR Geulumpang Payong dan sejumlah venue olahraga lainnya di wilayah Bireuen.
Namun di balik tingginya semangat dan antusiasme para atlet pelajar, dukungan dari sebagian pihak sekolah dinilai masih sangat minim. Berdasarkan pantauan langsung awak media di lokasi, sebagian besar peserta datang dan mengikuti proses seleksi ini dengan menanggung seluruh biaya secara pribadi atau ditanggung sepenuhnya oleh keluarga. Mulai dari keperluan transportasi, konsumsi, perlengkapan, hingga biaya pengurusan administrasi dan surat keterangan sehat dokter, semuanya dibebankan kepada orang tua siswa. Padahal, tahap ini adalah gerbang awal pencarian bakat atlet daerah.
“Kami hanya ingin anak-anak bisa berprestasi dan lolos seleksi menjadi atlet daerah. Walaupun harus mengeluarkan biaya sendiri untuk segala keperluan tersebut, tetap kami usahakan demi masa depan mereka. Yang penting mereka punya kesempatan membuktikan kemampuan,” ujar salah seorang wali atlet yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selain persoalan kurangnya dukungan pendanaan, kendala juga terdeteksi pada sistem penyebaran informasi dan koordinasi antarpihak. Meski surat pemanggilan telah diterbitkan sejak tanggal 4 Mei 2026 dan ditujukan kepada instansi pendidikan terkait untuk segera diteruskan ke sekolah-sekolah, fakta di lapangan menunjukkan sejumlah pihak sekolah baru menerima informasi tersebut hanya dua hingga tiga hari sebelum kegiatan berlangsung. Bahkan, ada sekolah yang mengaku sama sekali tidak menerima pemberitahuan resmi terkait tahapan seleksi ini.
“Kami menerima informasi mendadak, padahal pengurusan berkas dan persyaratan administrasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Akibatnya, ada siswa yang sebenarnya berpotensi bagus tidak bisa ikut seleksi karena dokumennya belum lengkap,” ungkap salah satu perwakilan sekolah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kendala utama lebih banyak terjadi pada alur penyampaian informasi di tingkat bawah, bukan pada proses penerbitan surat atau kinerja dari pihak penyelenggara yang sudah mengirimkan surat jauh hari sebelumnya.
Seorang guru olahraga yang ditemui awak media di lokasi juga berharap perhatian terhadap atlet pelajar dapat ditingkatkan ke depannya, baik dalam bentuk pendampingan langsung dari sekolah maupun dukungan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama sejak tahap penyeleksian awal ini.
Menurut sejumlah pihak yang terlibat, ke depan diperlukan sistem koordinasi yang lebih cepat, tepat, dan merata. Hal ini agar informasi kegiatan dapat diterima oleh seluruh sekolah secara tepat waktu, sehingga seluruh atlet pelajar memiliki kesempatan yang sama dan adil untuk mengikuti proses seleksi dan pembinaan daerah.
Berita ini disusun berdasarkan hasil wawancara, pantauan lapangan, dan merujuk pada dokumen resmi terkait.
(Mega)

