Kabar Tujuh | JakartaMinggu, 1 Maret 2026
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan segera melancarkan operasi ofensif terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran sebagai respons atas serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dilansir dari detik.com yang mengutip laporan CNN, Minggu (1/3/2026), ancaman tersebut muncul setelah Iran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan pada Sabtu (28/2) pagi.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa operasi ofensif terberat dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai dan menyasar wilayah serta pangkalan yang disebut sebagai basis Amerika.
Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan besar” dan menegaskan tidak akan membiarkannya tanpa balasan. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran turut menyampaikan bahwa insiden ini akan membuka babak baru dalam sejarah perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai penindasan global.
Masih berdasarkan laporan detik.com, serangan udara dilaporkan terjadi di kota-kota pada 24 provinsi di seluruh Iran. Serangan itu berlangsung dua hari sebelum agenda pembicaraan terkait program nuklir Iran yang dijadwalkan digelar di Wina. Pertemuan tersebut merupakan putaran keempat negosiasi antara perwakilan Iran dan AS.
Sebelumnya, putaran ketiga perundingan berlangsung di Jenewa pada Kamis lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bersama mediator dari Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, sempat menyampaikan adanya perkembangan dalam proses dialog tersebut.
Namun situasi berubah drastis pada 28 Februari 2026, ketika Iran menuduh AS dan Israel melanggar kedaulatan nasional dan integritas teritorialnya melalui serangan yang menghantam sejumlah fasilitas pertahanan dan sipil.
Sebagai bentuk penghormatan, Iran juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari atas wafatnya pemimpin tertinggi mereka.
Perkembangan ini memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah upaya diplomasi yang sebelumnya masih berjalan.
Redaksi Kabar TujuhSumber: detik.com (mengutip CNN).
📲 Share ke WhatsApp
