Oleh : Fudhail Nuril Huda, Lc.
Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, mahasiswa magister Akidah Filsafat Islam, UIN Sunan Kalijaga
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
“Guru adalah pekerjaan mulia yang akan diupah besar di akhirat kelak.”
“Guru upahnya amal jariyah, kalau mau cari uang jadi pedagang.”
Diksi-diksi ini sering kali disampaikan di ruang publik untuk meredam suara-suara guru yang menuntut satu hal sederhana: bukan tunjangan hidup mewah, bukan ingin disembah, melainkan hanya ingin digaji dengan pantas, dan dihargai layaknya manusia lainnya.
Pendidikan: Bukan Prioritas Negara
Dalam statistik terbaru dari seluruh kementrian dan lembaga negara, kementrian pendidikan tinggi, sains dan teknologi hanya menempati posisi ke-8 dan kementrian pendidikan dasar dan menengah berada di posisi ke-10.
Tidak hanya itu, selain anggaran pendidikan yang menurun drastis, berbagai macam pejabat negara pun mengeluarkan statement-statement yang memicu kontroversi publik. Contohnya seperti Bu Sri Mulyani, mantan menteri keuangan. Di sebuah forum yang diselenggarakan di ITB beliau menyinggung bahwa keluhan mengenai kecilnya gaji guru dan dosen kerap disampaikan masyarakat. Menurutnya, masalah ini menjadi tantangan berat bagi keuangan negara.
“Apakah semuanya harus ditanggung pemerintah atau masyarakat juga ikut berpartisipasi? Ujarnya, melansir dari Liputan6.com.
Di beberapa yayasan islam yang mayoritas gurunya merupakan para honorer, gaji guru cenderung sangat sedikit, hal ini sudah menjadi rahasia umum di Indonesia. Para atasan yayasan sering kali berlindung di balik narasi religius:
“guru harus bekerja dengan ikhlas, nanti insyaallah akan dibayar di akhirat.”
Sedangkan mereka hidup didampingi mobil mewah dan harta berlimpah, di saat yang sama para guru hidup ditemani supra usang dan angsuran dimana-mana.
Ikhlas Itu Urusan Pribadi, Bukan Alat untuk Menekan
Seorang teman yang merupakan alumni pesantren dan kini mengajar di sebuah sekolah swasta Methodist pernah menyampaikan pandangan yang sangat menarik, kurang lebih begini tuturnya:
“Di sekolah (swasta khususnya), murid-murid membayar spp yang nantinya akan digunakan untuk biaya operasi sekolah dan menggaji guru, jadi stop menormalisasi kata-kata “ikhlas” untuk menenangkan guru-guru yang tidak digaji atau digaji dengan upah yang sangat sedikit. Tugas sekolah adalah bersikap profesional untuk menghargai jasa gurunya, sedangkan ikhlas adalah urusan pribadi masing-masing guru dengan Tuhannya.”
Begini ya, negara punya uang dari pajak rakyat, sekolah-sekolah swasta juga punya dana dari spp siswa, kenapa tidak dialokasikan pertama gali untuk mensejahterakan guru, bukankah guru hanya manusia biasa yang butuh asupan?.
Stereotip Lama yang Masih Bertahan
Di masyarakat, kita kerap mendengar stereotip seperti:\
“Menjadi guru adalah menjadi miskin tapi mulia.”
“Kalau mau kaya, jangan jadi guru.”
Ada beberapa faktor mengakarnya stereotip ini, diantaranya:
Narasi sejarah bahwa guru diposisikan sebagai pengabdi bangsa sejak masa kolonial kemerdekaan
Istilah pahlawan tanpa tanda jasa seakan menegaskan guru harus ikhlas tanpa menuntut kesejahteraan
realitanya memang banyak guru, khususnya honorer, yang gajinya jauh dari layak.
kondisi ini diperkeruh dengan kalimat, “ngapain tinggi-tinggi sekolah kalau cuma jadi guru…”
Kenapa orang-orang tega membiarkan guru ditemani kesengsaraan dan kelaparan, padahal dari tangan mereka lah hilangnya kebodohan, padahal dari mulut mereka lah lahir kebijaksanaan, padahal dari keringat mereka lah tercipta peradaban.
Kualitas dan kuantitas guru yang jauh menurun
Di Indonesia, menjadi guru sangatlah mudah, tidak didahului oleh sistem kualifikasi yang rumit dan panjang, tidak seperti pilot, dokter, atau profesi-profesi yang lain. Hal ini menyebabkan lahirnya guru abal-abal dan tidak kompeten di bidangnya. Mahasiswa masuk jurusan pendidikan, belajar hal-hal dasar yang berhubungan dengan jurusannya, lalu belajar tata cara mengajar, lantas wisuda dan menjadi guru, tanpa menguasai ilmu di bidangnya dengan baik. Kualitas guru semakin hari semakin mengalami penurunan.
Pemilihan mapel yang hanya sekedar untuk mengisi kekosongan juga menjadi problematika. Sarjana sejarah yang mengajar bahasa inggris, sarjana bahasa inggris yang mengajar matematika, dll.
Berdasarkan pengamatan pribadi, 9 dari 10 anak di Indonesia tidak mau menjadi guru, tidak mau menjadi pengajar di sebuah lembaga pendidikan, kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi polisi, tentara dan pebisnis. Hal ini terjadi karena melihat kondisi guru-guru mereka di sekolah yang hidup serabutan layaknya tidak punya masa depan.
pesan
Jika yang membaca ini adalah guru, semoga bisa meningkatkan mutu, dan terus melatih diri untuk beramal dengan ikhlas.
Jika yang membaca ini adalah pemerintah ataupun petinggi yayasan, semoga bisa terus menjaga profesionalitas terhadap para guru dan senatiasa memberikan hak-hak yang layak bagi mereka.
Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang ikhlas dan profesional.
Untuk seluruh guru di Indonesia… terimakasih karena telah berjuang walau kadang tidak dihargai.

