Oleh: Afinas Qadafi,S.H Kader Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Cabang Langsa.
Aceh adalah tanah yang aromanya khas pahit, kuat, dan menggugah. Dari dataran tinggi Gayo hingga pesisir Barat-Selatan, setiap tegukan kopi menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, luka, dan harapan. Namun kini, aroma itu bukan hanya kopi, tetapi juga politik.
Politik: Dari Perjuangan ke Perebutan
Dua dekade setelah perdamaian Helsinki, Aceh masih mencari bentuk politik yang matang. Otonomi khusus memberi ruang besar untuk menentukan nasib sendiri, tapi dalam praktiknya, politik Aceh justru kerap tersandera oleh kepentingan pribadi dan kelompok.
Partai-partai lokal yang lahir dari semangat perjuangan kini banyak yang kehilangan arah ideologis. Kekuasaan menjadi ajang transaksi, bukan pengabdian. Teungku Hasan di Tiro pernah menegaskan bahwa “Perjuangan Aceh bukan untuk kemegahan, tapi untuk martabat.” Sayangnya, nilai perjuangan itu perlahan larut dalam aroma pragmatisme.
Alih-alih memperjuangkan keadilan sosial, sebagian elite politik Aceh sibuk memperkuat dinasti kekuasaan. Dari pilkada hingga kebijakan publik, aroma kepentingan semakin pekat. Seperti kopi yang diseduh tanpa takaran, politik Aceh kini kehilangan keseimbangan rasa.
Warung Kopi: Parlemen Rakyat yang Sesungguhnya
Namun, di tengah kabut kekuasaan itu, Aceh masih punya ruang perlawanan yang otentik di warung kopi. Di sana, rakyat berbicara tentang nasib, ekonomi, dan masa depan Aceh tanpa protokol dan panggung.
Warung kopi di Aceh itu unik, di situlah demokrasi berlangsung tanpa protokol layaknya Universitas tanpa Rektor dan Kantor tanpa absen. Karena siapapun bisa membicarakan apapun
Warung kopi bukan hanya tempat minum, tapi tempat rakyat menjaga kesadaran. Di setiap tegukan, terselip kritik dan harapan. Di antara asap rokok dan gelak tawa, lahir gagasan kecil yang sering lebih jujur daripada wacana parlemen.
Warung kopi menjadi panggung politik sejati, tempat janji kampanye dikritisi dan kebijakan pemerintah dibedah seperti mayat dimeja forensik, isu nasional dikupas lebih tajam dari pena jurnlis. Kadang suasana diskusi lebih panas dari kopi yang baru diseduh
Menyeduh Kembali Politik dengan Nilai
Aceh seharusnya belajar dari filosofi kopi: diseduh dengan sabar, dihidangkan dengan jujur, dan dinikmati bersama. Jika politik diseduh dengan amarah dan ambisi, hasilnya hanyalah getir. Tapi jika diseduh dengan visi dan keikhlasan, ia bisa menghangatkan banyak hati.
Politik seharusnya menjadi wadah untuk memperjuangkan rakyat, bukan menguasai mereka. Aceh butuh pemimpin yang mampu menanam politik seperti menanam kopidengan kesabaran, kesetiaan pada tanah, dan semangat menumbuhkan kehidupan.
Karena jika Aceh kehilangan kejujuran dalam politiknya, maka harumnya kopi pun akan ikut memudar. Dan ketika aroma itu hilang, kita bukan hanya kehilangan komoditas tapi kehilangan jati diri sebagai bangsa yang pernah berjuang untuk martabat.

