BIREUEN — Di tengah keterbatasan yang dihadapi pascabencana banjir, para penyandang tunanetra di Kabupaten Bireuen mulai mendapatkan perhatian melalui program penguatan spiritual dan bantuan sosial.

Lazismu Bireuen menggelar kegiatan silaturahmi dan pengajian Al-Qur’an Braille yang berlangsung di Aula Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH), Sabtu (18/4/2026) pukul 08.30 WIB.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi para tunanetra untuk tetap dapat mengakses pembelajaran Al-Qur’an, sekaligus memperkuat kondisi mental dan spiritual mereka di tengah situasi sulit.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibimbing secara langsung dengan metode pembelajaran Al-Qur’an Braille. Sebagian peserta terlihat aktif mengikuti pembacaan Al-Qur’an, sementara lainnya didampingi secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing. Pengajar turut membantu membacakan serta menuntun peserta dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.
Fajar Ardiansyah, M.Pd., Ketua Lazismu Bireuen, mengatakan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen dalam menghadirkan kepedulian yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi langkah awal untuk membangun kepedulian berkelanjutan agar saudara-saudara kita yang tunanetra tetap mendapatkan perhatian yang layak,” ujarnya.
dr. Athaillah A. Latief, Sp.OG, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bireuen, menegaskan bahwa kepedulian terhadap kelompok rentan harus dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.
“Perhatian terhadap penyandang disabilitas tidak boleh berhenti pada satu kegiatan saja. Harus ada kesinambungan agar benar-benar memberikan dampak nyata,” katanya.
Sementara itu, Husaini, Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bireuen, menyampaikan bahwa perhatian terhadap penyandang disabilitas di daerah masih perlu ditingkatkan.
“Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga tidak ada lagi penyandang disabilitas yang merasa terabaikan,” ungkapnya.
Selain pengajian, para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut turut menerima Al-Qur’an Braille, bingkisan, serta bantuan uang tunai sebagai bentuk kepedulian.
Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi antara Lazismu Bireuen, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bireuen, serta Rahmania sebagai mitra pendukung.
Program ini menjadi bukti bahwa di tengah situasi pascabencana, perhatian terhadap kelompok rentan tetap dapat dihadirkan, tidak hanya melalui bantuan material, tetapi juga melalui penguatan spiritual yang berkelanjutan.(Mega)

