kabartujuh
Bupati Aceh Utara Ismail Jalil menyampaikan keprihatinannya atas kondisi wilayahnya yang terdampak banjir bandang di Sumatera. Hal tersebut ia ungkapkan dalam rapat koordinasi Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana di Aceh yang dihadiri Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Rabu (31/12/2025).
Dalam rapat tersebut, Ismail menyampaikan harapannya agar pemerintah pusat dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap Aceh Utara, khususnya melalui kunjungan langsung ke wilayah terdampak.
Ia menyebutkan bahwa sejauh ini sejumlah daerah lain di Aceh dan sekitarnya telah menerima kunjungan Presiden Prabowo Subianto maupun Wakil Presiden dalam rangka peninjauan bencana.
“Mungkin selama ini kunjungan dilakukan ke Aceh Tamiang, Takengon di Aceh Tengah, dan Pidie Jaya. Kami berharap Aceh Utara juga dapat menjadi perhatian,” ujar Ismail.
Menurut Ismail, sebagian besar kecamatan di Aceh Utara mengalami kerusakan akibat banjir bandang. Namun, keterbatasan akses listrik dan jaringan telekomunikasi menyebabkan informasi dari wilayah tersebut tidak tersampaikan secara optimal.
Dalam forum tersebut, Ismail menyampaikan kondisi warganya dengan nada emosional. Ia juga meminta dukungan berupa bantuan helikopter untuk mempercepat distribusi logistik ke daerah yang terisolasi.
“Kami menyaksikan langsung rumah hanyut, sarana ibadah rusak, dan warga terdampak banjir. Banyak yang hanya bisa bertahan di atap rumah,” katanya.
Ismail menilai dampak banjir bandang dan longsor kali ini sangat besar dan memerlukan penanganan cepat serta terkoordinasi. Ia berharap keterbatasan akses komunikasi tidak menjadi kendala dalam penyaluran bantuan dan perhatian pemerintah.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan bahwa berdasarkan data sementara, terdapat 22 desa di wilayah Sumatera yang terdampak berat akibat banjir bandang dan longsor, bahkan dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 13 desa berada di Provinsi Aceh, delapan desa di Provinsi Sumatera Utara, dan satu desa di Provinsi Sumatera Barat.
“Total ada 22 desa yang terdampak sangat berat. Di Aceh 13 desa, di Sumatera Utara delapan, dan di Sumatera Barat satu,” ujar Tito.
Tito juga mengungkapkan bahwa sebanyak 1.580 kantor desa di tiga provinsi mengalami kerusakan, sehingga aktivitas pemerintahan desa tidak dapat berjalan normal. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.455 desa berada di Provinsi Aceh, dengan dampak terbesar terjadi di Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Tamiang.
“Di Aceh Utara jumlahnya lebih dari 800 desa, disusul Aceh Tamiang,” kata Tito.
Pemerintah pusat, lanjut Tito, terus melakukan pendataan lanjutan serta menyiapkan langkah-langkah pemulihan untuk memastikan pelayanan pemerintahan dan bantuan kepada masyarakat dapat segera berjalan kembali.

