- BIREUEN — Ada pesan penting di balik forum penelitian yang digelar Pemerintah Kabupaten Bireuen, Kamis (17/9/2026): pembangunan daerah tidak cukup hanya berjalan berdasarkan rutinitas.
- Pesan tersebut mengemuka dalam Diseminasi Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2026 yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Bappeda di Oproom Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen.
- Di hadapan peserta, Ismunandar menekankan bahwa hasil penelitian seharusnya tidak berakhir sebagai laporan yang tersimpan setelah kegiatan selesai.
KABAR TUJUH | MEGA — Liputan Langsung
Mengabarkan Fakta, Menyuarakan Kebenaran
BIREUEN — Ada pesan penting di balik forum penelitian yang digelar Pemerintah Kabupaten Bireuen, Kamis (17/9/2026): pembangunan daerah tidak cukup hanya berjalan berdasarkan rutinitas. Setiap kebijakan membutuhkan pijakan yang kuat, sementara penelitian dan data menjadi salah satu instrumen untuk membaca persoalan sekaligus memetakan potensi daerah.

Pesan tersebut mengemuka dalam Diseminasi Hasil-Hasil Penelitian Tahun 2026 yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Bappeda di Oproom Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen. Sekretaris Daerah Bireuen, Ismunandar, mewakili Bupati Bireuen membuka kegiatan yang mengusung tema: “Sinergi Riset untuk Negeri: Mengoptimalkan Potensi Lokal Menuju Bireuen yang Berdaya, Mandiri, dan Berkelanjutan.”
Di hadapan peserta, Ismunandar menekankan bahwa hasil penelitian seharusnya tidak berakhir sebagai laporan yang tersimpan setelah kegiatan selesai. Temuan akademik perlu dibawa lebih jauh menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan.
Menurutnya, arah tersebut sekaligus membutuhkan perubahan pola kerja di lingkungan pemerintahan, dari sekadar menjalankan rutinitas menuju budaya kerja yang lebih bertumpu pada penelitian dan data.
“Ini merupakan reformasi kebiasaan kerja menjadi kerja berbasis penelitian. Setiap kebijakan dan program harus terus didorong agar memiliki dasar dan hasil kajian,” ujar Ismunandar.
Empat Riset, Empat Persoalan Bireuen
Forum tersebut menghadirkan empat hasil penelitian yang mengambil tema berbeda, namun memiliki irisan langsung dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Prof. Dr. Halus Satriwan dari Universitas Almuslim memaparkan penelitian mengenai penilaian erosi tanah menggunakan model USLE dan SIG di Kabupaten Bireuen. Kajian ini menempatkan persoalan lingkungan sebagai bagian penting dalam perencanaan pembangunan wilayah.
Sementara Dr. Azhari dari Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) mengangkat kesiapan sumber daya manusia desa dalam mengimplementasikan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Aspek kapasitas SDM menjadi perhatian karena keberhasilan kelembagaan desa membutuhkan kemampuan pengelolaan yang memadai.
Dari sektor energi, Dr. Nelly Safitri dari Politeknik Negeri Lhokseumawe memaparkan kajian tentang potensi dan efisiensi penggunaan energi baru terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen.
Sedangkan Dr. Rahmi Novalita dari Universitas Almuslim membahas peran pendidikan dalam pembangunan sektor pariwisata serta sumber belajar berbasis kearifan lokal.
Empat kajian tersebut memperlihatkan bahwa penelitian dapat membaca Bireuen dari berbagai sisi — mulai dari kondisi lingkungan, kapasitas desa, kebutuhan energi, hingga pendidikan dan pariwisata. Semuanya bermuara pada satu kebutuhan: bagaimana potensi dan persoalan daerah diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih terukur.
Bukan Sekadar Forum Akademik
Plt. Kepala Bappeda Bireuen, Dr. Muslim, berharap hasil penelitian yang dipaparkan tidak berhenti sebagai referensi akademik. Rekomendasi dari para peneliti diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam menentukan program pembangunan yang lebih tepat sasaran.
“Penelitian jangan hanya menjadi dokumen, tetapi harus diimplementasikan agar bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Diseminasi juga membuka ruang dialog antara peneliti dan peserta. Sejumlah pertanyaan dan tanggapan muncul dalam sesi diskusi, mempertemukan perspektif akademik dengan kebutuhan praktis pembangunan daerah.
Peserta kegiatan berasal dari sejumlah unsur pemerintahan, lembaga, akademisi, serta organisasi terkait, di antaranya Bappeda, BPS, Disdagperindag Koperasi dan UKM, DPUP, DPKP, DLH, Bagian Hukum Setdakab, Kesbangpol, unsur protokol, MDMC, Polkoprim, hingga Aceh Green Conservation.
Pada akhirnya, nilai sebuah penelitian tidak berhenti pada seberapa lengkap laporan disusun. Ukurannya terletak pada sejauh mana pengetahuan itu dapat diterjemahkan menjadi keputusan, program, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

