- Bursa Ketua KONI Aceh Tamiang Mulai Menghangat, Hendriko Lubis Tawarkan Gagasan Pembinaan dari Desa hingga Prestasi
- KARANG BARU — Bursa kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Tamiang mulai bergeliat menjelang berakhirnya periode kepengurusan 2022–2026.
- Selain dipercaya sebagai Ketua DPD Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Tamiang, ia juga memimpin Cabang Olahraga Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) Aceh Tamiang.
Bursa Ketua KONI Aceh Tamiang Mulai Menghangat, Hendriko Lubis Tawarkan Gagasan Pembinaan dari Desa hingga Prestasi
KARANG BARU — Bursa kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Tamiang mulai bergeliat menjelang berakhirnya periode kepengurusan 2022–2026. Sejumlah nama mulai diperbincangkan, salah satunya Hendriko Lubis yang menyatakan ketertarikannya untuk mengikuti proses pemilihan Ketua KONI Aceh Tamiang.
Pernyataan tersebut disampaikan Hendriko di Karang Baru, Rabu (16/9/2026).
Hendriko bukan figur baru dalam dunia organisasi olahraga. Selain dipercaya sebagai Ketua DPD Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Tamiang, ia juga memimpin Cabang Olahraga Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) Aceh Tamiang.
Di PERKEMI, Hendriko terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum masa bakti 2026–2030. Kepemimpinannya diarahkan pada penguatan latihan, pembinaan atlet, kedisiplinan serta kesiapan menghadapi kompetisi.
Pengalaman tersebut kini hendak dibawa ke ruang pembinaan olahraga yang lebih luas melalui KONI.
Namun, apabila proses tersebut berlanjut hingga Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab), persoalannya bukan semata mengenai siapa yang akan menduduki kursi ketua. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun sistem olahraga Aceh Tamiang yang mampu melahirkan atlet secara berkelanjutan.
Pembinaan Dimulai dari Akar Rumput
Salah satu gagasan yang disoroti Hendriko adalah pentingnya pembinaan atlet secara berjenjang.
Menurutnya, pencarian bakat olahraga tidak seharusnya baru dilakukan ketika sebuah kejuaraan sudah di depan mata. Pembinaan harus dimulai dari tingkat desa, sekolah dan kecamatan, kemudian dikembangkan secara terarah hingga tingkat kabupaten.
Konsep tersebut menempatkan pembibitan sebagai fondasi utama prestasi olahraga.
Atlet tidak cukup hanya dipersiapkan untuk mengejar medali dalam satu kejuaraan. Mereka membutuhkan proses panjang berupa latihan rutin, pendampingan pelatih, pengalaman bertanding, fasilitas yang memadai serta jalur pembinaan yang jelas.
Dengan pola tersebut, potensi atlet di daerah diharapkan tidak berhenti pada tingkat lokal, tetapi dapat berkembang menuju kompetisi tingkat provinsi hingga nasional.
KONI Bukan Hanya Bergerak Saat Kejuaraan
KONI memiliki posisi penting dalam menghubungkan cabang olahraga, atlet, pelatih dan pemerintah daerah. Karena itu, keberadaan organisasi tersebut tidak hanya diperlukan ketika agenda pertandingan sudah semakin dekat.
Dalam persiapan PORA XIV di Pidie pada 2022, misalnya, KONI Aceh Tamiang memberangkatkan kontingen dari enam cabang olahraga dengan total 89 atlet, pelatih, ofisial dan panitia.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang juga memberikan bonus sekitar Rp400 juta kepada atlet dan pelatih yang meraih medali pada PORA XIV sebagai bagian dari pembinaan prestasi.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa pembinaan olahraga membutuhkan kesinambungan antara organisasi, pemerintah daerah, cabor, pelatih dan atlet.
Karena itu, pembicaraan mengenai kepemimpinan KONI ke depan juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan program pembinaan, fasilitas latihan, pendanaan, kesejahteraan pelatih serta pemetaan potensi atlet.
Dinamika Dukungan Cabor
Dalam proses pemilihan Ketua KONI, cabang olahraga memiliki posisi penting sesuai mekanisme dan ketentuan organisasi.
Sejarah Musorkab KONI Aceh Tamiang pada 2022 menunjukkan dinamika tersebut. Saat itu, sebanyak 27 dari 36 ketua cabor yang memiliki hak pilih menyatakan dukungan kepada Mursil untuk maju sebagai Ketua KONI.
Dalam Musorkab V yang berlangsung pada 31 Maret 2022, Mursil kemudian terpilih secara aklamasi. ANTARA melaporkan, kegiatan tersebut diikuti peserta dari 40 dari 41 cabor yang diundang.
Catatan tersebut menjadi bagian dari dinamika organisasi yang pernah berlangsung di Aceh Tamiang.
Namun, proses menuju Musorkab berikutnya tetap harus mengikuti AD/ART KONI, persyaratan pencalonan, tata tertib Musorkab serta mekanisme resmi yang berlaku.
Karena itu, munculnya nama Hendriko Lubis saat ini masih merupakan bagian dari dinamika awal bursa kepemimpinan. Penetapan calon dan keputusan mengenai siapa yang memperoleh mandat tetap berada dalam mekanisme organisasi.
Adu Gagasan, Bukan Sekadar Adu Dukungan
Hendriko menempatkan olahraga sebagai bagian dari investasi jangka panjang daerah.
Pandangan tersebut membawa pembicaraan mengenai KONI pada persoalan yang lebih substantif: program apa yang akan dijalankan, bagaimana cabor mendapatkan pembinaan, bagaimana atlet usia dini dipetakan, serta bagaimana prestasi dapat dibangun secara konsisten.
Termasuk di dalamnya perhatian terhadap pelatih, fasilitas latihan, pendanaan, kompetisi berjenjang dan kesempatan atlet mendapatkan pengalaman bertanding.
Dengan demikian, Musorkab nantinya bukan hanya menjadi ruang untuk menentukan siapa yang memimpin organisasi.
Musorkab juga menjadi momentum untuk mempertemukan gagasan mengenai arah olahraga Aceh Tamiang dalam beberapa tahun ke depan.
Menunggu Tahapan Resmi
Sejauh ini, Hendriko Lubis telah muncul sebagai salah satu nama yang diperbincangkan dalam bursa kepemimpinan KONI Aceh Tamiang.
Namun, perjalanan menuju kursi Ketua KONI masih harus melewati tahapan dan mekanisme organisasi yang berlaku.
Dukungan dari cabang olahraga, jika nantinya muncul, juga menjadi bagian dari proses yang harus ditempatkan dalam koridor aturan Musorkab.
Yang kemudian menarik untuk ditunggu bukan hanya siapa yang memperoleh dukungan terbanyak, tetapi gagasan seperti apa yang akan ditawarkan kepada insan olahraga Aceh Tamiang.
Sebab, prestasi tidak lahir dalam waktu singkat.
Di balik sebuah medali terdapat atlet yang berlatih, pelatih yang mendampingi, cabor yang membangun program, fasilitas yang harus tersedia dan dukungan anggaran yang harus dikelola secara tepat.
Dari desa, sekolah dan kecamatan, pembinaan itu semestinya menemukan jalannya hingga ke tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional.
Pada titik itulah bursa kepemimpinan KONI Aceh Tamiang bukan sekadar berbicara tentang pergantian nama di kursi ketua.
Lebih jauh, publik olahraga akan menunggu bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi program nyata untuk membangun pembinaan atlet dan prestasi Aceh Tamiang secara berkelanjutan.

